Yono Daryono Kenalkan Sosok Kardinah, Pejuang Emansipasi Lewat Buku

  Rabu, 29 Mei 2019   Lilisnawati
Buku 'Kardinah' karya Yono Daryono dibedah dalam sarasehan budaya di Pendopo Ki Gede Sebayu oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal, Selasa (28/5/2019) sore. (Lilisnawati/Ayotegal.com)

TEGAL TIMUR, AYOTEGAL.COM--Buku 'Kardinah' karya Yono Daryono dibedah dalam sarasehan budaya di Pendopo Ki Gede Sebayu oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tegal, Selasa (28/5/2019) sore.

Dalam kesempatan tersebut, juga dihadirkan seorang pakar sejarah yakni Wijanarto untuk membedah isi dari buku Kardinah.

Dikatakan penulis, alasannya menulis kisah Kardinah karena pada tahun 1976, saat dirinya menjadi penyiar radio ia menemukan kaset rekaman Kardinah yang menceritakan kronologis bagaimana Kardinah membangun rumah Sakit Kardinah Tegal.

AYO BACA : Komunitas Pecinta Cagar Budaya Tegal Dibentuk

\"Sejak saat itu saya tergugah dan tertarik untuk mengetahui lebih jauh sepak terjang Kardinah,\" katanya.

Menurut penulis, bagi masyarakat Tegal dan sekitarnya, ketika mendengar nama Kardinah, masyarakat akan tertuju dengan nama rumah sakit saja.

\"Masih banyak orang yang tidak tahu bahwa Kardinah seorang pejuang emansipasi wanita. Keberadaan Kartini sebagai pejuang emansipasi tidak lepas dari peran serta dari Kardinah dan Roekmini,\" jelasnya.

AYO BACA : Tanamkan Nilai Sejarah pada Siswa Lewat Lomba Karya Tulis Ilmiah

Mereka berjuang untuk kesetaraan gender, menurutnya Kardinah layak menjadi teladan dan layak menjadi pahlawan. Sementara pemerintah hanya memberikan penghargaan tahun 1969 Perintis Kemerdekaan Bakti Sosial.

\"Bagaimana ia menggerakan wanita di Tegal untuk berkarya untuk membuat batik, membuat kerajinan itu yang menarik menurut saya,\" ujarnya.

Seorang sejarawan Wijanarto berpendapat Tegal memiliki setting lokal yang diperhitungkan di panggung sejarah Indonesia karena terdapat momentum sejarah, ada personal atau tokoh sejarah yang mempengaruhi dinamika perkembangan kesejarahan di Indonesia salah satunya Kardinah.

Sosok Kardinah sama halnya Kartini, ia memberontak melawan tradisi poligami dan perempuan di Jawa. Bukan hanya itu, Kardinah dan Roekmini sebagai penerus cita-cita kakaknya, Kardinah di Tegal, Roekmini di kudus.

\"Sama-sama melakukan itu, ketiganya adalah putri bangsawan yang beredukasi, memiliki kesadaran yang tinggi, memiliki jiwa pembrontakan terutama perlawanan nilai kultur tradisi yang bagi dia membelanggu,\" tuturnya.

Wijanarto juga menyimpulkan bahwa menulis sejarah tidak hanya menjadi monopoli sejarawan akademis, karena sejarawan otodidak seperti Yono Daryono cukup penting, karena ia banyak mewarisi karya-karya selain Kardinah, ada juga Tegal Stad, lakon naskah drama sejarah Tegal seperti Mbah Panggung, Martoloyo contoh penting kehadiran sejarawan otodidak.

AYO BACA : Antusiasme Kelompok Balo-balo dan Rebana Lestarikan Kesenian Khas Tegal

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar