KST Gagas Kongres Sastra Tegalan

  Selasa, 03 September 2019   Dwi Ariadi
Gelar Temu Budaya di Lembah Agro, Desa Karangjambu, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, pada 1 September 2019 mengagendakan Kongres Sastra Tegalan. (dok)

BALAPULANG, AYOTEGAL.COM - Komunitas Sastrawan Tegalan (KST) menggagas perlu adanya kongres Sastra Tegalan. Hal ini perlu dilakukan karena perjalanan sastra Tegalan sudah mencapai seperempat abad. 

Seperti yang disampaikan Lanang Setiawan kepada Ayotegal, Selasa (3/9/2010). Berdasarkan Gelar Temu Budaya di Lembah Agro, Desa Karangjambu, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, pada 1 September 2019 mengagendakan Kongres Sastra Tegalan. 

Dalam kegiatan tersebut menghadirkan empat pembicara, Dr Maufur, Atmo Tan Sidik, Tambari Gustam, dan Dina Nurmalisa Sabrawi, kandidat doktor Universitas Indonesia (UI).
Pembahasan Kongres Sastra Tegalan cukup penting.Tonggak perjalanan Sastra Tegalan sudah sampai seperempat abad. Hal ini disampaikan Tambari Gustam, pegiat Sastra Tegalan. Menurut Tambari, melihat perjalanan Sastra Tegalan yang sudah mencapai seperempat abad, maka Kongres Sastra Tegalan perlu digelar.

''Perjalanan Sastra Tegalan sudah cukup panjang. Dilalui sejak tahun 1994 dimotori seniman Lanang Setiawan melahirkan sajak-sajak terjemahan Tegalan dari sajak-sajak WS. Rendra dan Chairil Anwar. Gerakan ini menjadi tonggak sejarah lahirnya Sastra Tegalan hingga saat ini mewabah di bumi Tegal,''ujarnya.

Dengan bukti konkret ini, lanjut dia, tidak ada alasan untuk tidak menggelar Kongres Sastra Tegalan. 

“Karena apa? Buku-buku Sastra Tegalan sudah banyak diterbitkan baik puisi, cerpen, novel, drama, artikel, naskah drama, wangsalan, skenario film, juga tembang-tembang Tegalan. Kaum intelektual dan akademisi tak sedikit melakukan penelitian dan mempelajari teks-teks Sastra Tegalan,''tegas Tambari yang kerap menyelenggarakan lomba baca puisi Tegalan.

Hal yang sama juga disampaikan Atmo Tan Sidik, Penerima Anugerah Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Selaku pelestari pengembangan budaya Tegalan tahun 2014 juga mengungkapkan, untuk kesinambungan dengan generasi muda, Kongres Sastra Tegalan harus digelar.

“Dalam suasana tahun baru Islam 1414 hijriah, mari kita mulai lebih jujur terhadap silsilah dalam merunut sejarah Sastra Tegalan. Kita harus dengan bening obyektif ketika berada dalam tarikan teks dan konteks. Terkait pendidikan karakter bangsa, mari kita upayakan pelestarian dan pengembangan bahasa Sastra Tegalan. Untuk kesinambungan dengan generasi muda,” katanya.

Dina Nurmalisa Sabrawi, yang juga dosen Univesitas Pekalongan mengusulkan, hendaknya ketika nanti digelar Kongres Sastra Tegalan, tidak cuma membahas konsep tapi juga ada digelar pertunjukan seni dan sastra khas Tegalan. 

“Jadi nggak cuma membahas konsep tapi juga pentas,” katanya.

Lebih jauh Dina memaparkan, Indonesia membangun identitas budaya melalui teks-teks sastra. Tegal, sebagai bagian dari budaya Jawa,  dianggap sebagai bahasa kasar dan digunakan sebagai bahan lelucon. Untuk itu, Kongres Sastra Tegalan harus diwujudkan untuk membentuk identitas dengan gerakan.

Dr. Maufur setuju dengan gagasan yang dilambungkan oleh Lanang Setiawan untuk segera menggelar Kongres Sastra Tegalan.

''Kami setuju dengan gagasan ini. Dengan perjalanan gerakan Sastra Tegalan yang sudah mencapai 25 tahun, gagasan tersebut harus diwujudkan. Persoalannya kapan agenda ini digelar,” katanya.

Untuk ini Atmo Tan Sidik dan Dwi Ery Santoso mengusulkan, alangkah baiknya Kongres Sastra Tegalan digelar pada  26 November 2019. Alasannya karena tanggal dan bulan itu adalah Hari Lahirnya Sastra Tegalan.

Hadir dalam acara tersebut, Endhy Kepanjen, Mashuri Dahlan, Dinhaz Yussac, Dhimas Riyanto, Wawan Setiawan, Dr. Maufur, Dr. Rika dari Universitas Indonesia, Lanang Setiawan, Tambari Gustam, Atmo Tan Sidik, Saunan Rasyid, Mohammad Ayyub dan sejumlah seniman dan akademisi. (Dwi Ariadi) 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar