Pesona Sawah Batu Bukateja, Ikonik Tanpa Sampah Plastik

  Sabtu, 30 November 2019   Dwi Ariadi
Salah satu spot gazebo yang menarik di tempat wisata Sawah Batu di Desa Bukateja, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal. (Ayotegal.com/Dwi Ariadi)

BALAPULANG, AYOSEMARANG.COM - Satu lagi, wisata desa yang unik dan menarik hadir Kabupaten Tegal.

Area persawahan dengan kondisi alam bebatuan di Desa Bukateja, Kecamatan Balapulang, disulap menjadi tempat wisata yang ikonik.

Secara resmi, Sabtu (30/11/2019), wisata khas ini diluncurkan oleh Bupati Tegal Umi Azizah.

Lantas, apa saja yang menarik dari wisata Sawah Batu ini?

Menurut Bahtiar Djanan dari Hidora yang menjadi mitra Pemdes Bukateja, di desa Bukateja terdapat area persawahan yang sangat luas terbentang, dengan total luasan hampir  83 hektare.

Dikatakan, Desa Bukateja merupakan salah satu ujung terjauh sebaran batuan geologi dari aktivitas vulkanik Gunung Slamet, maka tidak heran bebatuan sisa-sisa vulkanik ini tersebar luas di sepanjang area desa, baik di permukaan tanah maupun di bawah lapisan tanah, termasuk di area persawahan.

Dalam menggarap sawahnya, warga selalu menjumpai bebatuan dalam jumlah yang tidak sedikit dengan berbagai ukuran. Untuk batu-batuan yang tidak terlalu besar, batu-batuan ini akan ditata ditumpuk rapi sedemikian rupa dimanfaatkan sebagai pematang sawah.

Untuk batu-batuan berukuran besar biasanya akan dibiarkan saja di sawah, atau dipecah-pecah menjadi ukuran yang lebih kecil, untuk dimanfaatkan sebagai bahan bangunan.

Sawah dengan pematang dari tanah dan tatanan batu-batuan sisa aktivitas vulkanik yang terlihat unik ini menjadi ciri khas hamparan sawah di desa Bukateja dan beberapa desa sekitarnya. Karena itu lahirlah gagasan branding des dengan sebutan "Sawah Batu".

Dari pemetaan kondisi tersebut, lahirlah gagasan dari Pemerintah Desa Bukateja untuk mengembangkan aktivitas wisata desa, sebagai salah satu alternatif solusi untuk membangkitkan perekonomian desa, mengurangi angka urbanisasi, serta mengembangkan potensi sumber daya manusia, khususnya bagi kalangan anak muda desa.

''Sejak bulan Maret 2019, Pemerintah Desa Bukateja bekerja sama dengan HIDORA (Hiduplah Indonesia Raya) merancang konsep pengembangan wisata desa yang sesuai dengan karakter dan potensi yang ada di Desa Bukateja,"katanya.

Karakter dan ciri khas Desa Bukateja dengan sawah batu-nya menjadi gagasan mendasar yang dikembangkan sebagai potensi wisata di Desa Bukateja.

Konsep wisata desa di Bukateja untuk tahap pertama di tahun 2019 ini adalah pengembangan area persawahan sebagai lokasi untuk wisata kuliner.

Sebuah hall berkapasitas lebih dari 50 orang dan 13 buah gazebo berkapasitas 4-6 orang ditata di pematang-pematang sawah, terhubung dengan jembatan bambu, dan  kolam renang bernuansa alami.

Itu semua menjadi spot menarik untuk menikmati kuliner tradisional dengan suasana indah persawahan yang berada di kaki bukit Clirit ini.

Tepat di area sentral lokasi tersebut terdapat bangunan lapak berbahan bambu yang disediakan untuk para pedagang kuliner lokal desa.

 Berbagai kuliner lokal desa ataupun kuliner lokal Tegal disajikan untuk pengunjung dengan kemasan tradisional, menggunakan daun, piring lidi, takir, dan sejenisnya, tanpa plastik. Konsep utamanya adalah zero plastic waste (tanpa sampah plastik).

Zero plastic waste menjadi sebuah tema yang digagas untuk mengedukasi masyarakat dan pengunjung wisata, agar tumbuh kesadaran untuk meminimalisasi penggunaan plastik kemasan.
Sore hari menjelang matahari terbenam merupakan "prime time", waktu paling ideal untuk menikmati suasana Wisata Sawah Batu Bukateja. 

Perpaduan pemandangan indah area kaki perbukitan Clirit dengan bangunan-bangunan bambu hall, gazebo, dengan jembatan bambunya, akan menjadi makin terlihat menawan di senja hari saat matahari terbenam.(Dwi Ariadi)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar