ACT Tegal Sasar Ustadz/Ustadzah dalam Program 'Sahabat Guru Indonesia'

  Selasa, 03 Desember 2019   Dwi Ariadi
Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tegal memberikan bantuan beaya hidup kepada ustadzah, Selasa (3/12/2019). (dok. ACT Tegal)

KRAMAT, AYOTEGAL.COM -- Tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Tegal, Selasa (3/12/2019) berkunjung ke dua  tempat yang berbeda.

Kali pertama yang dikunjungi adalah TK/KB Yaa Bunayya, Desa Mejasem, Kecamatan Kramat Kabupaten Tegal.

Di sekolah ini terdapat tiga ustadzah masuk dalam program terbaru ACT.  Pemberian bea-guru untuk guru honorer dan guru Tahfidz.

Nama program tersebut adalah  program “Sahabat Guru Indonesia” (SGI). Dari ketiga ustadzah ini, mereka yang telah mengabdi lebih dari 5 tahun. Selepas dari TK/KB Yaa Bunayya, ACT Tegal menuju Desa Kalisoka Kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal tepatnya di pesantren Al Huda Al Mahamid.

Di tempat ini, tim bertemu dengan seorang ustadz yang mengajar tahfidz.  ACT Tegal memberikan santunan berupa bantuan beaya hidup kepada 4 orang ustadz/ustadzah.
Siswartono, kepala cabang ACT Tegal menjelaskan tujuan program Sahabat Guru Indonesia ini.

“Yang pertama adalah memberikan kontribusi perbaikan pada permasalahan pendidikan di Indonesia agar lebih baik, kedua adalah sebagai wasilah untuk menyemangati guru-guru Honorer dalam mengabdi, ketiga adalah meningkatkan kesejahteraan guru-guru, dan yang terakhir adalah menebar manfaat dan menjadi jembatan dari jiwa-jiwa dermawan baik nasional maupun global dengan masyarakat yang membutuhkan,"katanya.

Dijelaskan pula, tidak semua guru/ustadz masuk dalam program ini. Ada beberapa syarat di antaranya adalah guru-guru yang berstatus honorer (non-PNS) dan berpenghasilan rendah (di bawah Rp 1 juta), guru-guru Tahfidz (pengajar ngaji) di pesantren atau di kampung-kampung.

''Banyak perjuangan yang bisa diteladani dari para penerima Beaguru, beberapa di antaranya seperti Ibu Ery Ristinah yang masih aktif mengajar di TK/KB Yaa Bunayya sebagai guru honorer dengan gaji di bawah satu juta, setelah bekerja beliau masih menyempatkan diri mengajar baca tulis Qur'an untuk anak berkebutuhan khusus dengan kafalah seikhlasnya. Dan saat ini beliau tengah diuji oleh Allah SWT, anak pertamanya (18th) didiagnosa mengidap epilepsi,"tambahnya.

Selain kisah Ibu Ery ada lagi kisah dari ustadz Alfakhsy pemilik pesantren Al Huda Al Mahamid yang sudah bertahun-tahun menekuni sebagai guru pesantren, dan saat ini sudah 2 tahun lebih dia sedang berikhtiar merintis pesantren dan mengajar di pesantren sendiri meskipun dengan kondisi ala kadarnya. Ustadz Alfakhsy, menyampaikan ucapan terima kasih atas adanya program ini. 

“ Saya hanya bisa mendoakan mudah-mudahan para pejuang ACT diberikan keselamatan barokah dunia dan akhirat dan semoga program-program semacam ini masih terus berjalan”, ujarnya.
(Dwi Ariadi)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar