Tantangan Guru di Era Milenial

  Selasa, 10 Desember 2019   Abdul Arif
Fita Dwi Oktavia Mahasiswi Universitas Peradaban Bumiayu

AYOTEGAL.COM-- Guru dalam filosofi Jawa merupakan akronim dari kata "digugu lan ditiru", (orang yang dipercaya dan diikuti). Bukan hanya bertanggung jawab memberikan pengetahuan yang dimiliki kepada anak didiknya, melainkan lebih dari itu guru juga memiliki tanggung jawab moral yang besar untuk membentuk integritas dan karakter yang memiliki etika yang baik di lingkungan sekolah dan lingkungan keluarganya. 

Martin Luther King Jr menyatakan, "Intelegence plus character, that is the true goal of education".  Murid milenial sekarang dituntut bukan hanya harus cerdas dalam bidang intelektual dan pengetahuan saja, namun karakter yang dimiliki harus baik, berakhlak yang benar sesuai norma di masyarakat. Kedua hal tersebut menjadi tantangan bagi para guru dan pendidik dalam mengajar di kelas. 

Peran dan tugas guru di era disrupsi ini lebih berat. Tantangan pendidikan masa depan yang menuntut peserta didik agar mampu berpikir secara kritis, berkolaborasi, memecahkan masalah, mengambil keputusan dan berpikir kreatif harus dihadapi guru. 

Guru harus benar-benar mampu menyiapkan berbagai han agar dapat mencetak generasi muda yang lebih berkompeten di masa mendatang. 

Menjadi seorang guru bukanlah profesi yang mudah. Totalitas dan komitmen yang besar dalam mengajar serta dibutuhkan kesabaran dan keuletan menjadi modal utama agar terciptanya peserta didik yang cerdas dalam pengetahuan, memiliki moral dan etika yang baik untuk menyiapkan masa depannya. 

Fenomena yang terjadi saat ini guru sebagai seorang pendidik dituntut mencerdaskan anak bangsa, serta melahirkan masa depan bangsa yang gemilang. Namun selain bertugas sebagai pendidik, Guru saat ini diterapkan dengan tugas-tugas administratif yang justru membuat ruang dan waktu Guru menjadi terbatas dalam tugas mendidik siswa/murid. 

Guru yang seharusnya meluangkan sedikit waktu tambahan untuk anak didik yang tertinggal dalam pembelajaran di kelas, namun harus mengerjakan tugas administratif yang manfaatnya kurang jelas. Hal ini menjadi sebuah dilema bagi para guru maupun pendidik. 

Perubahan yang terjadi dalam sisdiknas (Sistem Pendidikan Nasional) saat ini harus didasari dengan asas kemanfaatan bersama, dengan melibatkan Guru secara langsung dalam membuat sebuah regulasi. Karena Gurulah yang langsung berhadapan dengan siswa di kelas. Perubahan merupakan hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. 

Pilihan kita hanya dua, menghindar sehingga kita tertinggal atau menghadapinya agar kita mampu berkontribusi dengan peran terbaik sebagai seorang pendidik. 

Peran Guru di era digital seperti sekarang ini juga rentan tergeser dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat. Internet dengan variasi informasinya kadang dijadikan acuan utama oleh generasi Z dan generasi Alpha dibandingkan dengan perkataan para Guru. 

Lahirnya platform pendidikan virtual pun turut menggeser posisi Guru di era ini. Bahkan, di beberapa sekolah dan Universitas sudah menerapkan sistem belajar Online dimana tatap muka antara Guru dan murid tak lagi dibutuhkan. 

Kini, Guru lah yang harus mengikuti perkembangan zaman dan menikmati proses bergesernya peran mereka di era disrupsi ini. Sebagian contoh ada banyak "start up" yang lahir di bidang pendidikan. Guru harus memulai mengubah cara-cara lamanya serta fleksibel dalam memahami hal-hal baru dengan lebih cepat. 

Ada hal yang perlu menjadi perhatian bersama di dalam dunia pendidikan kita sekarang. Guru lebih memprioritaskan jenjang karirnya dengan standar yang telah di tetapkan oleh pemerintah, hal ini dikhawatirkan bisa membuat Guru lupa dengan tugas awalnya, yaitu mendidik siswa/murid. 

Teruntuk para Guru dimana pun berada, lakukan perubahan kecil dalam proses pembelajaran di kelas sebagai wujud inovasi dan kreatifitas. Percayalah bahwa setiap murid memiliki keistimewaan tersendiri. Cara guru adalah temukan bakar terpendam dari murid yang kurang percaya diri, karena setiap anak adalah istimewa. Setiap anak memiliki kehebatan masing - masing. 

--Fita Dwi Oktavia, Mahasiswi Universitas Peradaban Bumiayu

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar