Laporan Khas: Awal Mula Warteg, dari Dipikul Hingga jadi Warung Beken

  Selasa, 14 Januari 2020   Lilisnawati
Liswanti, salah satu pemilik warteg di Kelurahan Cabawan, Kota Tegal tengah melayani pembeli, Selasa (14/1/2020). (Ayotegal.com/Lilisnawati)

MARGADANA, AYOTEGAL.COM-- Bagi kebanyakan orang, mendengar Warung Tegal (warteg) sudah pasti akan tertuju ke Kota Tegal. Sebuah kota kecil di pesisir Pantai Utara Jawa.

Di Kota Tegal sendiri, Kelurahan Cabawan, Kecamatan Margadana, sudah mendapat julukan kampung warteg.

Sebab, hampir 70% warga Kelurahan Cabawan bekerja sebagAi pengusaha dan buruh di warteg.

Keberadaan warteg juga sudah mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia.

Warung yang terkenal karena murah meriah dan banyaknya pilihan lauk menjadi ciri khasnya.

Anda cukup mudah menemukan warteg di kota-kota besar di Indonesia, seperti DKI Jakarta, Semarang, Bandung, Surabaya dan lainnya.

Tokoh masyarakat Kelurahan Cabawan Abdul Wahid (63) menceritakan, pada tahun 1970, masyarakat Cabawan mulai hijrah ke ibu kota.

AYO BACA : Cuaca Berawan Hingga Hujan Warnai Akhir Pekan di Kota Tegal

Mereka datang ke Jakarta untuk mengadu nasib. Ada yang sebagai kuli bangunan, ada pula yang berdagang.

\"Dulu pertama kali, namanya bukan warteg tapi kopi. Mereka hanya berjualan kopi, ketan, ubi, singkong, yang kemana-mana dipikul. Kemudian berubah menjadi warung tenda, dan sekarang menjadi warteg,\" terangnya saat ditemui, Senin (13/1/2020).

Selain itu, dirinya juga menceritakan asal mulanya menu warteg menjadi berwarna. Menurutnya, menu lauk di warteg mencapai 30 macam.

\"Jadi kenapa tambah banyak. Dulu, setiap ada pembeli yang minta lauk apa dan kebetulan tidak ada, besoknya kita buatkan. Berawal dari situlah menu-menu warteg jadi banyak,\" jelasnya.

Menurutnya, bicara warteg, tak bisa dilepaskan dari seorang tokoh penggagasnya. Di Kelurahan Cabawan, ada sosok Sastoro.

\"Pak Haji Sastoro bisa dikatakan penggagasnya. Sekarang beliau jadi ketua Kowarteg Tegal,\" katanya.

Dirinya juga mengungkapkan, berkat usaha warteg, perekonomian masyarakat Cabawan meningkat.

AYO BACA : Petugas Kebersihan Kota Tegal Dilatih Bikin Pelet dari Sampah

Terlihat dari rumah-rumah gedong bertingkat yang menjamur di Kelurahan Cabawan.

\"Dulu masyarakat sini hanya sebagai buruh tani, rumahnya geribik. Sekarang, setelah merintis ke wirausaha Alhamdulillah ekonominya meningkat,\" ujarnya.

Sementara itu, Lurah Cabawan, Pudjo Andri Raharjo juga sepakat, usaha warteg mampu mengangkat perekonomian masyarakat di Kelurahan Cabawan.

\"Saya melihat bisnis warteg memang sangat mengangkat ekonomi masyarakat. Di Cabawan sendiri ada stratanya, kalau di warteg di Jakarta stratanya sudah menengah ke atas,\" ucapnya.

Bukan hanya itu, keberadaan warteg juga mampu menekan angka pengangguran di Kelurahan Cabawan.

Sebab, tak sedikit bos-bos warteg yang menggaet masyarakat sekitar yang tidak bekerja untuk menjadi buruh warteg di luar kota.

\"Di sini dari 6000-an jumlah penduduk, 70% menjadi pengusaha warteg dan buruh warteg,\" ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan, masyarakat yang menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) di kelurahannya hanya hitungan jari. Bahkan, kebanyakan ketua RT dan RW didominasi oleh kaum perempuan.

\"Jadi bapak-bapaknya pada merantau ke luar kota,\" pungkasnya. 

AYO BACA : Kue Keranjang, Pererat Silaturahmi Saat Imlek

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar