Seorang ODP Meninggal, RSUD dr Soeselo Slawi Masih Tunggu Hasil Uji Lab

  Rabu, 01 April 2020   Dwi Ariadi
Direktur RSUD dr Soeselo Slawi dr Guntur Muhammad Taqwin. (dok)

SLAWI, AYOTEGAL.COM-- RSUD dr Soeselo Slawi Kabupaten Tegal masih menunggu hasil uji laboratorium terkait dengan salah satu pasien yang masuk Orang Dalam Pengawasan (ODP) meninggal pada Minggu (29/3/2020) lalu.

Pasien ODP tersebut baru saja datang dari Jakarta.

\"Belum bisa dipastikan karena masih harus menunggu hasil uji laboratorium,\" kata Direktur RSUD dr Soeselo Slawi dr Guntur Muhammad Taqwin, Rabu (1/4/2020) pagi ini.

Penjelasan tersebut terkait dengan kabar di masyarakat jika kematian pasien laki-laki berusia 36 tahun tersebut karena infeksi Covid-19. Hal ini terjadi lantaran pasien asal Kecamatan Balapulang itu termasuk kategori Orang Dalam Pantauan (ODP) karena baru datang dari Jakarta seminggu sebelumnya.

AYO BACA : Isolasi Wilayah, Jalur Perbatasan Kota Tegal Mulai Ditutup Barikade Beton

“Saat datang ke rumah sakit, langsung kita tetapkan statusnya sebagai ODP karena dari tracking diketahui pasien baru datang dari Jakarta,” katanya.

Guntur menuturkan, jika ada pasien dengan gejala klinis seperti demam tinggi dan memiliki riwayat perjalanan dari wilayah zona merah, maka protokol kesehatan secara otomatis menempatkan yang bersangkutan sebagai ODP. 

“Pasien tersebut datang ke IGD dengan kondisi demam dan tensi tinggi. Sebelum meninggal, pasien sempat mengalami penurunan kesadaran dan keluar pendarahan dari mulut dan hidung”, jelasnya.

Sejak kedatangannya di ruang isolasi IGD, pasien ini akan dipindahkan ke ruang isolasi ICU. Namun karena penuh, sudah terisi pasien Pasien Dalam Pengawasan (PDP), oleh dokter jaga IGD, pasien dipindahkan ke ruang isolasi Palm. 

AYO BACA : Pemudik di Kabupaten Tegal Diminta Isolasi Diri di Rumah

“Saat di ruang isolasi Palm inilah pasien mengalami henti jantung sehingga oleh tim medis dilakukan tindakan resusitasi jantung paru-paru dengan pemberian oksigen dan obat-obatan emergency, namun tetap tak tertolong”, tuturnya.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, tim dokter pun telah mengambil sampel lendir tenggorokan pasien dan mengirimkan ke laboratorium kesehatan di Yogyakarta. Sementara untuk pengurusan jenazahnya, pihaknya telah menerapkan standar operasional prosedur penanganan jenazah pasien terkonfirmasi positif Covid-19.

“Pada kasus ini, kita terapkan prosedur penanganan Covid-19 sebagai antisipasi kemungkinan terburuk pasien terpapar virus Corona, meskipun jika dilihat dari gejala klinisnya, kematian pasien lebih disebabkan komplikasi penyakit seperti jantung ataupun stroke yang memicu pecahnya pembuluh darah, termasuk TB paru karena dari penelusuran kami ke keluarganya, ada riwayat pasien untuk pengobatan penyakit ini,” katanya.

Guntur pun mengimbau agar masyarakat tetap tenang dan tidak perlu menstigma pasien ini meninggal karena terinfeksi Covid-19 karena memang hasil tesnya belum keluar.

Menurut Guntur, sikap waspada dalam situasi seperti ini sangat diperlukan karena potensi berpindahnya virus dari kota besar ke desa-desa cukup besar seiring dengan meningkatnya arus mudik, kepulangan warga ke kampung halamannya.

“Sepanjang warga disiplin menerapkan protokol kesehatan, seperti menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, tidak bersentuhan secara fisik, menjaga jarak aman minimal satu hingga dua meter dengan siapa pun, entah itu dengan anggota keluarga, teman ataupun tetangga, terlebih mereka yang baru datang dari zona merah, tentunya tidak perlu panik,\" jelasnya.

AYO BACA : Ini 4 Akses Masuk Kota Tegal saat Isolasi Wilayah

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar