Kreatif, Seniman Tegal Terbitkan Buku Antologi Puisi Soal Korona

  Senin, 06 April 2020   Dwi Ariadi
Dina Nurmalisa Sabrawi dan cover buku antologi puisi bertema korona. (dok)

TEGAL TIMUR, AYOTEGAL.COM- Di tengah kegelisahan terhadap pandemi Covid-19, Komunitas Sastrawan Tegalan tetap menunjukkan kreativitasnya.

Dosen Universitas Pekalongan (Unikal) Dina Nurmalisa Sabrawi, yang sekaligus kandidat doktor dari Universitas Indonesia (UI) memberikan kata pengantar buku antologi Kur 267 bertajuk "Kota Beton, Kesaksian Pageblug Korona" yang dieditori Lanang Setiawan.

Menurut Dina Nurmalisa, sejak karya sastra tersebut dikenalkan Lanang Setiawan dan kawan-kawan penyair di Tegal, KUR 267 sama seperti korona yang menyebar begitu cepat.

AYO BACA : Kades Bergerilya Awasi Perantau Mudik ke Kampung Halaman

"KUR 267 sebagai genre baru puisi pendek tegalan mulai menjangkiti siapa saja. Dari penyair, pejabat, politisi, guru, siswa, seniman, hingga siapa saja yang sempat mengenal genre baru ini, mulai menulis KUR 267. Sebelumnya, ada antologi KUR 267 yang dieditori Lanang Setiawan. Lalu ada antologi KUR 267 Layang-Layang Stern yang ditulis dalam dua bahasa Tegalan – Jerman."

Puisi pendek yang berpola semacam ini, kata Dian, tentunya bukan hal yang mudah untuk menciptakannya.

"Antologi KUR 267 kali ini mengusung tema tentang respons masyarakat terhadap merebaknya virus korona. Beberapa di antaranya mengeluh, ada yang mengajak pada kegiatan yang bermanfaat di rumah, ada yang memetik hikmah, ada yang pasrah, banyak pula yang gelisah," tuturnya.

AYO BACA : Pemudik di Kabupaten Tegal Diminta Isolasi Diri di Rumah

Yang menarik dari karya-karya sastra Tegalan menghadirkan perspektif wong cilik dalam merespon sebuah peristiwa.

Wong cilik yang terimbas korona merasakan penderitaan karena kehilangan pendapatan. Para buruh kesulitan pangan karena tidak ada pekerjaan, sehingga keluarganya pun kapiran. 

Nampaknya, bagi wong cilik, ancaman keselamatan karena serangan virus sepertinya tidak lebih menakutkan daripada kesulitan hidup.

Sementara itu, Lanang Setiawan mengatakan, diterbitkannya karya tersebut semata sebagai penanda bahwa di jagat raya ini pernah mengalami wabah virus covid-19 yang berbahaya.

"Sampai-sampai di daerah kami, Tegal, hampir semua jalan keluar masuk Tegal penuh dengan ratusan beton penghalang aktivitas masyarakat," ujar Lanang. 

Pertengahan bulan April ini, antologi Kur 267 tersebut bakal terbit.

AYO BACA : Pemudik di Kabupaten Tegal Diminta Isolasi Diri di Rumah

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar