Paradoks Jurnalis dalam Pemberitaan COVID-19

  Minggu, 26 April 2020   Abdul Arif
Yunizar Riswanda Ardi, Social Media Specialist. Antusias pada budaya dan komunikasi siber.

AYOtTEGAL.COM-- COVID-19 bukan saja berhasil menggerogoti kondisi organ pernafasan penderitanya, namun juga kondisi psikis orang-orang yang sehat, tak terkecuali para jurnalis. Penyakit ini memang menyerang tanpa memandang latar belakang agama, ideologi apa lagi profesi. Lalu kenapa jurnalis juga rentan terdampak?

Jika tenaga kesehatan berjibaku dengan virus atau pasien terjangkit virus, jurnalis sebagai penjaga gawang berita dan informasi COVID-19 selalu berjibaku dengan beragam informasi yang “mengerikan” terkait virus. Seperti virus yang bermutasi dan terus menyebar dari waktu ke waktu, gejala klinis yang berubah-ubah, hingga jumlah pasien positif dan kematian yang terus bertambah setiap saat tanpa terprediksi. Belum lagi jika harus bertemu dengan narasumber yang ODP, PDP, bahkan positif COVID-19 yang baru diketahui setelah wawancara.

Mereka yang Memproduksi, Mereka yang Terdampak

Rekan saya seorang redaktur salah satu media online di Semarang pernah menceritakan kecemasannya terjangkit dan menularkan COVID-19 saat pertengahan waktu virus tersebut mewabah di Indonesia khususnya Semarang. Menariknya kecemasan tersebut bukan tercipta karena ada orang di sekitarnya yang terjangkit, melainkan karena informasi dari narasumber dan materi berita menakutkan yang akan direproduksi dari media rekanan.

AYO BACA : Pengadilan Agama Kelas 1A Semarang Catat Dispensasi Pernikahan Capai 90

Kecemasan tersebut ditunjukkan dalam aktivitas sehari-hari. Sedihnya rasa cemas itu berubah menjadi sindrom psikosomastik. Sehingga membuat rekan saya sering merasa seperti memiliki gejala COVID-19. Tentu saja ini menjadi sebuah paradoks bagi dirinya dan mungkin jurnalis-jurnalis lain yang memang rentan “terdampak” COVID-19 ini.

Apakah munculnya sikap cemas tersebut wajar? Tentu saja wajar. Saya berasumsi ada dua hal utama yang membuat jurnalis merasa cemas akibat COVID-19 ini. Pertama efek kultivasi bersifat mainstreaming. Kedua, integrasi informasi COVID-19 yang didapat dari pengalaman interaksi langsung.

Kultivasi menjelaskan perilaku ketakutan sosial (social parnoia) kelompok masyarakat dalam melihat dunia luar akibat tindak kekerasan dan kriminalitas yang sering mereka konsumsi di media massa. Kini dampak tersebut bergeser menjadi ketakutan sosial akibat virus bernama resmi SARS-CoV-2 ini.

Seiring perkembangan teknologi media dan bisnis yang mengaburkan peran konsumen dan produsen informasi, mengakibatkan kultivasi kemungkinan bisa juga terjadi pada jurnalis. Hal ini disebabkan oleh sistem kerja sama pemberitaan media atau model bisnis jaringan media khususnya media online. Sehingga jurnalis sering kali mereproduksi berita media lain yang masih satu jaringan atau terikat kerja sama pemberitaan. Menurut saya pada posisi ini jurnalis bukan saja bertindak sebagai produsen berita namun juga konsumen.

AYO BACA : Update Covid-19 Jateng: 459 Pasien Dirawat, 64 Jiwa Meninggal, dan 73 Orang Sembuh

Saat menjadi konsumen, kultivasi yang terjadi pada jurnalis ini bersifat mainstreaming. Singkatnya jurnalis memiliki intensitas dan frekuensi yang sangat tinggi dalam berhadapan dengan informasi arus utama (mainstream) tentang COVID-19 ini. Mainstreaming ini akan semakin kuat terhadap jurnalis yang bekerja pada perusahaan jaringan media. Jika agenda dan framing yang ditetapkan jaringan media tersebut adalah gejala-gejala dan dampak mengerikan COVID-19, maka para jurnalis ini hanya akan masuk dalam pusaran informasi tersebut selama krisis COVID-19 berlangsung. Akses mereka terhadap informasi dan berita lain sebagai penyeimbang menjadi terbatas. Mereka menjadi lebih sering membaca berita kematian atau gejala klinis menakutkan COVID-19 sebelum memproduksi ulang berita tersebut.

Penyebab kerentanan jurnalis “terdampak” COVID-19 selanjutnya adalah pengalaman dan pengintegrasian informasi dalam ranah kognisi. Ada banyak informasi yang diterima oleh jurnalis sebelum mereka memproduksi suatu berita. Terlebih informasi-informasi mengerikan COVID-19 yang didapatkan dari narasumber kredibel. Belum lagi informasi bernilai proximity yang ada dalam lingkaran sosial dan profesi mereka, seperti PWI mengumumkan ada beberapa jurnalis positif COVID-19 (10/4) atau seorang jurnalis senior meninggal dengan gejala COVID-19 setelah sempat ditolak dua rumah sakit rujukan (26/3/2020).

Jika informasi tentang gejala dan dampak mengerikan COVID-19 yang didapatkan dari narasumber kredibel secara berulang sesuai dengan keyakinan dasar mereka, maka akan menimbulkan valensi dan bobot positif. Valensi dan bobot positif inilah yang dapat mempengaruhi sistem kepercayaan dan sikap mereka. Sehingga menjadikan jurnalis rentan mengalami kondisi gangguan kecemasan berat dan mudah panik.

Lalu apakah sebaiknya jurnalis dan media tempat mereka bekerja mulai mengurangi pemberitaan COVID-19 yang dominan mengerikan? Atau mereka tetap harus mengawal penanganan COVID-19 ini sesuai dengan realitas yang ada?

Dampak COVID-19 ini memicu munculnya paradoks pada pekerjaan jurnalis. Kondisi mereka berada di tengah ancaman bahaya tertular dan rentan gangguan psikis atau mental akibat overload informasi yang menakutkan. Namun mereka juga memiliki tanggung jawab moral dan sosial untuk mengedukasi dan menginformasikan perkembangan wabah COVID-19 ini kepada masyarakat.

Salam takzim saya untuk para rekan jurnalis berintegritas. Terlepas berita yang dibuat terasa menakutkan ataupun menyejukkan. Karena lebih lebih utama membangun sikap waspada masyarakat atas bahaya COVID-19 ini agar penyebarannya dapat segera terhenti.

--Yunizar Riswanda Ardi, Social Media Specialist. Antusias pada budaya dan komunikasi siber.

AYO BACA : Ganjar Beri Bantuan Sembako Penghuni Rusunawa Undip

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar