Kasus Pembuangan Jasad ABK WNI ke Laut, Satu Agen Asal Tegal Jadi Tersangka

  Minggu, 17 Mei 2020   Dwi Ariadi
pembuangan jasad ABK WNI ke laut. (istimewa)

JAKARTA, AYOTEGAL.COM - Dittipidum Bareskrim Polri menetapkan 3 agen yang memberangkatkan 14 Anak Buah Kapal (ABK) Warga Negara Indonesia (WNI) bekerja di kapal Long Xing 629 berbendera China jadi tersangka.

Kabareskrim Polri Komjen Pol Listyo Sigit Prabowo mengatakan, ketiga agen tersebut yakni berinisial W dari PT Alfira Perdana Jaya di Bekasi, F dari PT Lakemba Perkasa Bahari di Tegal, dan J dari PT Karunia Bahari Samudera atau PT SMG di Pemalang.

''Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dengan tujuan eksploitasi bermodus menjanjikan gaji, penempatan kerja dan waktu kerja tidak sesuai,” kata Listyo, Minggu (17/5/2020).

Sebagaimana diketahui, cerita miris datang dari dunia pekerja kapal asal Indonesia. Sebanyak empat dari 18 Anak Buah Kapal (ABK) yang bekerja di kapal Longxing 629 China meninggal dunia dan tiga jasad di antaranya dibuang ke laut lepas.

Ketua Serikat Pekerja Perikanan Indonesia (SPPI) Korea Selatan, Ari Purboyo mengungkapkan, mereka meninggal dunia dalam kondisi tubuh yang bengkak. Tiga ABK tersebut, yakni Al Fattah yang meninggal dunia pada September 2019 karena sakit, Sefri asal Palembang dengan penyebab yang sama, kemudian Ari yang meninggal dunia pada Februari 2020. "Tiga orang ini yang dibuang di laut," kata Ari sebagaimana dikutip dari Suara.com, Selasa (5/5/2020).

Sedangkan, satu ABK lainnya yakni Effendi Pasaribu sempat dilarikan ke rumah sakit di Korea Selatan namun nyawanya tidak dapat tertolong. Dari hasil forensik yang dilakukan, penyebab Effendi meninggal dunia karena pneumonia atau radang paru-paru.

Banyak faktor yang menjadi indikasi penyebab keempat WNI tersebut meninggal dunia dengan kondisi tubuh membengkak. Ari menyebut ada faktor kekerasan yang dialami, akan tetapi menurutnya faktor tersebut bukan menjadi unsur terbesar dari penyebab meninggal dunia.

Faktor lainnya juga bisa dari makanan atau minuman yang ABK tersebut konsumsi setiap harinya. Ari menyebutkan, jika ABK asal Indonesia mendapatkan perlakukan berbeda untuk makanan dan minuman dengan ABK asal China. "Itu minum mungkin bisa dilihat dari peristiwanya kan badannya membengkak ya. Itu kemungkinan besar mereka meminum air laut yang disuling," kata dia.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar