Ditahan Polda Jateng, 2 Warga Tegal Terlibat TPPO Kasus Pembuangan Jasad ABK WNI ke Laut

  Rabu, 20 Mei 2020   Dwi Ariadi
konferensi pers Polda Jateng kasus TPPO.

SEMARANG, AYOTEGAL.COM - Jajaran Polda Jateng telah menangkap dua tersangka yang diduga melakukan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang tewas dan jenazahnya dibuang ke perairan Somalia, belum lama ini.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Iskandar Fitriana Sutisna mengatakan, perekrutan dan menempatkan ABK melalui PT Mandiri Tunggal Bahari tidak mempunyai Surat Izin Perekrutan Pekerja migran Indonesia (SIP2MI) yang dikeluarkan oleh Kepala Badan Penempatan Pekerja Migran Indonesia.

\"Perusahannya sendiri ada, cuman untuk perizinan dalam merekrut dan mempekerjakan di luar negeri yang tidak sesuai SOP,\" ujarnya, Rabu (20/5/2020).

Adapun dua tersangka yang diamankan yakni, S (45) yang merupakan Komisaris, MH (54) sebagai Direktur perusahaan. Beberapa dokumen dan sejumlah CPU diamankan petugas sebagai barang bukti.

AYO BACA : Polda Jateng Tahan Bos Agen ABK WNI yang Dibuang ke Laut, Kantor di Tegal Sudah Tutup

Sementara itu, Direktur Reserse Kriminal Umum (Direskrimum) Polda Jateng, Kombes Pol. Budi Haryanto, menambahkan, perusahaan asal Tegal itu telah memberangkatkan ABK untuk bekerja di kapal berbendera China, Lu Qing Yuan Yu 623 dan Fu Yuan Yu 1218.

Dimana pada 16 Januari 2020 lalu, Herdianto salah satu ABK asal Indonesia untuk salah satu kapal asing tersebut meninggal dunia karena sakit dan jenazahnya dibuang ke perairan Somalia.

Selain memberangkatkan Herdianto, PT Mandiri Tunggal Bahari juga diketahui memberangkatkan ABK bernama Taufik Ubaidilah. \"Kasus yang sama pun dialami Taufik. Ia meninggal dunia karena jatuh dari palka, 23 November 2019 dan jenazahanya juga dibuang ke laut,\" katanya.

Selain membuang jenazah ABK asal Indonesia ke laut, Kapal Fu Yuan Yu 1218 juga diketahui membawa enam ABK lain asal Indonesia. Enam ABK itu diketahui melompat ke laut di mana empat orang berhasil diselamatkan kapal Malaysia, sedang dua orang lainnya masih belum ditemukan.

\"Kedua tersangka akan dijerat dengan UU No.18/2017 tentang Perlindungan Pekerja Migran Indonesia dan UU No.21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Ancaman hukumannya yakni penjara 5-15 tahun dan denda maksimal Rp15 miliar,\" imbuhnya.

AYO BACA : Jaring 132 Remaja Konsumsi Miras, Tim Puma Polres Pemalang Raih Penghargaan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar