Cerita Warga Kendal Budidaya Kopi Liberika yang Hampir Punah

  Jumat, 24 Juli 2020   Dwi Ariadi
Bibit tanaman kopi liberika yang dikembangkan Widodo di Desa Mlatiharjo Patean Kendal sebagai upaya pelestarian tanaman yang nyaris punah di Kendal. (Edi Prayitno/Kontributor Kendal)

KENDAL, AYOTEGAL.COM - Prihatin dengan tanaman kopi liberika yang menjadi warisan pendahulu dan juga menjadi ciri khas Kabupaten Kendal, hampir punah seorang warga Desa Mlatiharjo Patean, Kendal berusaha membudidayakan tanaman kopi liberika.  

Tidak tanggung-tanggung hingga saat ini, budidaya tanaman tersebut telah digelutinya selama 21 tahun. 

Untung 2 Kali Lipat, Widodo pria berusia 52 tahun kini sedang memberdayakan kopi asal liberika Afrika, tanaman perkebunan itu kini mulai hilang di Kendal.  

“Padahal kopi yang dibawa saat masa kolonial Belanda saat ini dicari pencinta kopi. Meskipun memiliki harga yang lebih mahal dibandingkan dengan kopi arabika dan robusta, kopi liberika mempunyai aroma buah nangka,” jelasnya. 

Liberika dikenal mempunyai kadar kafein yang rendah, sehingga nyaman di perut. Menurut Widodo, profesi pemberdayaan bibit kopi liberika itu sudah dia tekuni sejak 1999. 

 “Kenapa saya kembangkan tanaman kopi ini, karena prihatin dengan banyak tanaman kopi liberika yang ditebang di Kendal yang merupakan warisan pendahulu,” imbuhnya. 

Harga bibit kopi liberika milik Widodo sekitar Rp2.000 per batang dan memiliki banyak jenis. Di antaranya jenis exelsa, ada yang daunnya besar seperti daun tembakau, ada yang kecil mirip daun apel. 

Hingga saat ini di Kendal masih ada sekitar 50 hektar kebun kopi liberika. Ia  berharap dengan budidaya yang telah dilakukan selama 21 tahun dapat mempertahankan ciri khas Kendal yang dikenal dengan tanaman kopi liberika.(Edi Prayitno)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar