Sinyal Susah, Siswa SMP di Lereng Dieng Belajar di Atap Rumah

  Kamis, 30 Juli 2020   Dwi Ariadi
Dua orang siswa SMPN 4 Bawang saat menggunakan jaringan internet gratis yang dipasang sekolah dengan naik atap rumah. (Dok)

BATANG, AYOTEGAL.COM - Potret perjuangan pelajar SMPN 4 Bawang yang berada di lereng pegunungan Dieng Kabupaten Batang patut mendapat perhatian.  

Betapa tidak, karena susahnya mendapat akses sinyal internet, mereka harus berjuang untuk dapat menerima praktik pembelajaran jarak jauh (PJJ) berbasis online.

Mereka sampai belajar di atap rumah. Sekolah yang berlokasi di Desa Pranten, Kecamatan Bawang ini menjadi salah satu desa yang masih terisolir di Batang. 

Sehingga bukan perkara gampang untuk mendapatkan sinyal internet di lokasi yang punya banyak titik blankspot tersebut.  
Tak hanya soal susah sinyal, budget untuk membeli kuota pun juga menjadi kendala bagi sebagian siswa. Kepala Sekolah SMPN 4 Bawang Mulud Sugito mengatakan, tidak semua pelajar berasal dari kalangan mampu. 

Apalagi beberapa waktu lalu harga panen bawang putih terbilang anjlok.  Sehingga banyak orang tua yang mayoritas petani keberatan, untuk membelikan kuota anaknya. 

''Orang tua sangat keberatan, kuota sangat boros karena digunakan untuk medsos, browsing, dan game online karena orang tua sulit memantau," kata Mulud Sugito.   

''Dampaknya, selama pembelajaran online semester kemarin 2 siswa dinikahkan dan 1 siswa disuruh keluar untuk membantu orang tua bekerja di ladang,''lanjutnya.  

SMPN 4 Bawang pun telah menerapkan pembelajaran door to door, home visit ke rumah siswa. Meski begitu cara ini tidaklah terlalu efektif karena hanya bisa dilakukan sekali dalam seminggu. 

Lantaran daerah yang diakses cukup susah dan tidak sepadan dengan jumlah personil yang terjun ke lapangan.  Berangkat dari hal tersebut, sekolah kini berinisiasi untuk menyediakan pemancar jaringan internet gratis untuk siswa.  

Hal ini diberlakukan, untuk mendukung pembelajaran model kombinasi yang diterapkan Disdikbud Batang mulai tahun ajaran ini.  

Pembelajaran dilakukan secara bergantian, antara pembelajaran tatap muka dan pembelajaran jarak jauh atau daring.  Dengan anggaran sekitar Rp15,7 Juta pihak sekolah memasang antena mikrotik untuk pemancar jaringan internet.  

Dengan antena ini siswa bisa mendapatkan hotspot internet secara cuma-cuma, gratis disediakan sekolah.  Hotspot ini pun dipasang di beberapa titik, seperti di Dukuh Sigemplong, Dukuh Pranten, Dukuh Rejosari dan Dukuh Bintoro Mulyo.  

Meski cuaca berkabut tebal, saat di test speed kecepatan mencapai 13,34 mbps dan saat cuaca cerah mencapai 30 mbps. 
Dengan kecepatan ini para siswa bisa menggunakan layanan internet untuk berbagai keperluan. Seperti mengakses Google Classroom, Zoom, YouTube dan aplikasi pendukung lainnya.

  "Karena sinyal susah hampir merata di setiap dukuh. Kami memasang hotspot gratis di empat dukuh. Ini juga sebagai solusi anak agar bisa menikmati pembelajaran daring yang lebih nyaman, dan juga tidak menyusahkan orang tua," jelas lelaki lulusan Universitas Negeri Semarang ini.  

Mulud berharap langkah ini mampu menjadi solusi untuk semua kalangan. Ia juga berharap siswa bisa bijak menggunakan fasilitas ini untuk kepentingan yang bermanfaat.  

Untuk mengantisipasi penyalahgunaan, tim IT SMPN 4 Bawang pun sudah melakukan pemblokiran situs terlarang. Hotspot internet ini tersedia 24 jam baik untuk jalur local host maupun internet backbone wireless. Fasilitas internet ini pun mampu dinikmati dalam radius 500 meter.  

"Untuk siswa kami sediakan secara gratis atau cuma-cuma. Namun jika ada masyarakat yang berminat, mereka bisa mendapatkan layanan internet ini dengan biaya Rp3 Ribu untuk internet sepuasnya selama 24 jam," pungkasnya.  

Perwakilan siswa, Habib Asani dan Mad Rokhim mengaku senang dengan fasilitas ini. Selain lebih mudah mendapatkan sinyal, dengan internet gratis ini ia tidak perlu meminta biaya kuota ke orang tuanya. 

 "Internetnya kenceng mbak. Jadi kalau buka Google Classroom bisa lancar. Biasanya untuk watsapan saja susah. Apalagi untuk buka aplikasi yang lain yang lebih berat. Ibu saya juga senang karena saya tidak lagi meminta uang untuk beli kuota. Kadang sudah punya kuota pun susah karena sinyalnya ilang-ilangan. Tapi kalau pakai internet ini lancar," tutur siswa kelas 9 ini. 
(Muslihun)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar