25 Tahun, Sastra Tegalan Harus Tembus Batas Lokalitas

  Minggu, 22 September 2019   Dwi Ariadi
Kritikus Sastra Tegalan Muarif Esage bersama Lanang Setiawan.

TEGAL TIMUR, AYOTEGAL.COM-- Perjalanan sastra Tegalan yang sudah memasuki seperempat abad sudah tidak lazim lagi dipahami sebagai sebuah gerakan budaya yang semata diletakkan dalam teks dan konteksnya.

Sebab, menurut Muarif Esage, kritikus pergerakan Sastra Tegalan, jika Sastra Tegalan khususnya puisi dilihat pada teks dan konteksnya terlalu naif.

\"Maksudnya, sastra Tegalan, yang secara khusus saya lihat puisi tegalan, terlalu naif bila hanya posisikan sebagai teks yang menggunakan bahasa Tegal dengan konteks linguistik para penuturnya,\" kata Muarif.

AYO BACA : Sinok Sitong Dituntut Kenalkan Kota Tegal Lebih Dalam

Karena itu, menurut guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Slawi ini, Sastra Tegalan ke depan adalah sastra yang telah melampaui batas teks dan konteks itu.

\"Jangan lagi membaca sastra Tegalan sebagai produk teks bahasa lokal dengan konteks budaya yang sempit,\" paparnya.

Menurut dia, senyampang pergerakan Sastra Tegalan sudah seperempat abad berjalan, sudah saatnya berani membaca sastra Tegalan dalam pertumbuhannya dengan sastra Indonesia dan sastra dunia.

AYO BACA : Ratusan Lansia Antusias Senam Bersama Peringati HLUN

\"Di sini, saya tidak hendak menyamakan dengan gagasan H.B Jassin, \"sastra Indonesia sebagai warga sastra dunia\" atau sastra dari belahan kampung manapun. Yang harus kita lakukan adalah membaca sastra Tegalan yang berhadap-hadapan langsung dengan teks dan konteks sastra dari belahan dunia mana pun.\"

Konkretnya? Menurut Muarif, pascapergerakan Sastra Tegalan seperempat abad, harus berani membaca sastra Tegalan (khususnya puisi) dengan cara menyandingkan dengan karya puisi agung \"Matsnawi i Ma'nawi' karya Jalaludin Rumi atau dengan puisi besar dari khasanah sastra Jawa lama, \"Serat Jatiswara\".

\"Kita harus bisa melangkah untuk membuka \"jed-jedan\" estetik dan kedalaman substansi dalam bentuk pesan moral dan kultural antara sastra Tegalan dengan karya besar sastra lainnya,\" kata Muarif yang pernah menulis buku biografi sosok Lanang Setiawan bertajuk \"Lanang Setiawan Penjaga Bahasa dan Pelopor Sastra Tegal\".

Hanya dengan cara demikian, lanjut dia, karya sastra Tegalan pasca dua puluh lima tahun akan menemukan kultur barunya yang melampaui batas lokalitasnya yang sempit.

AYO BACA : 150 Anak Antusias Ikuti Lomba Menggambar dan Mewarnai

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar