Hadirkan Sejumlah Tokoh, Kongres Sastra Tegalan Usung Konsep Paseduluran

  Selasa, 19 November 2019   Dwi Ariadi
Panitia Kongres Sastra Tegalan melakukan rapat kegiatan. (Dok)

TEGAL TIMUR, AYOTEGAL.COM - Penyelenggara Kongres Sastra Tegalan makin memantabkan konsep kegiatan yang akan digelar pada 26 November 2019.
Kongres perdana yang mengambil tempat di Kampus Universitas Pancasakti (UPS) diproyeksikan menjadi titik awal perjalanan Sastra Tegalan yang sudah mencapai usia seperempat abad.

Tak ayal, sejumlah tokoh akan hadir dalam kegiatan tersebut. Penyair Tegal, Atmo Tan Sidik, lewat puisi Tegalannya berjudul “Pamoré Sastra Tegalan”  nantinya bakal dibacakan oleh mantan Wali Kota Tegal, HM. Nursholeh pada acara kongres berlangsung.

“Dulu sebelum Sastra Tegalan lahir khusus puisi, bahasa Tegal hanya dijadikan bahan lelucon. Orang Tegal pun minder menggunakan bahasa Tegal,” tutur Atmo.

Hal tersebut tertuang di bait-bait puisinya yang berbunyi:

//Wayah saiki keadaané Sastra Tegalan/ibaraté kaya banyu klapa ijo utawa layangan/sing mili utawané nglawan arus/tetep ana nang duwur//Ibaraté iwak lélé/basa Sastra Tegalan /mauné dianggep sepélé//Barang saiki wong pada paham katuranggané/nganti gizi lan manfaaté/oh alah idih jebulé ora péré-péré/malah krasa pada mbranang/dadi gegayuhan//.

Sastra Tegalan, lanjutnya, adalah sinonim dengan sastra bebrayan. Sesuatu yang sangat tepat untuk merajut kemodernan dan keindonesiaan.
 
“Ketika sumber-sumber referensi moral makin sulit ditemukan, maka untuk mendownlod estetika illahiyah diperlukan keseimbangan antara ilmu dan laku berbasis kearifan lokal, yang dalam konfigurasi dinamika nilai ke-Indonesiaan. Saatnya Sila Pertama dari Pancasila ini menjadi sumber yang menafasi empat sila dari semua sila.”

Dalam hal ini, lanjut Atmo, bahasa daerah adalah lambang dari pengalaman. Yang memainkan peran sebagai  solidarity producting.

“Mitos sesombong apapun wong Tegal, ketika disembur ‘Tuah Sastra Tegalan’ akan segera sampai pada kesadaran untuk tidak songaran (sok), ora kedombrangan (tidak bertingkah aneh-aneh), malah sebaliknya luluh di lesehan paseduluran. Ini peran Sastra Tegalan dalam konteks Sila Persatuan.”

Ditegaskan, karena sifatnya Sastra Tegalan paseduluran, maka puisi Tegalan tidak hanya dibacakan di kotanya sendiri melainkan dibacakan di manca negara.

Hal ini seperti terjadi beberapa pekan lalu ketika Tambari Gustam dan Inang Winarso di Spanyol membacakan puisi Tegalan. Hal yang sama juga dibawakan oleh Dr. Maufur di Tajmahal India seperti tertuang pada bait-bait akhir puisi Atmo Tan Sidik:

//Anggita aksara Tegalan/diwaca tekan Spanyol ora mung mbanyol/ngramékena keguyuban lagi kyai Maufur sing Tegal/maca ning Tajmahal//Saiki waktuné bareng gawé pretungan/mumpung kongres Sastra Tegalan digelar//.

Semetara itu Ketua Panitia Kongres, Dhimas Riyanto menuturkan, keikutsertaan mantan Walikota Tegal HM. Nursholeh untuk membacakan puisi Tegalan karya Atmo itu, adalah sebagai wujud penghargaan kepadanya.

“Itu alasan kami menyertakan Kang Nursholeh selain untuk menghormati mantan walikota, selain itu dia adalah Bapak Sastra Tegalan,” ujarnya didampingi Sekretaris Kongres Lanang Setiawan.

Dalam kongres nanti, bertindak sebagai nara sumber yakni, Dr. Sunu Wasono (dosen Universitas Indonesia), Dina Nurmalisa, H.Hum  (dosen Universitas Pekalongan, kandidat doktor UI), Ahmad Tohari (novelis), Dr. Tri Mulyono (dosen UPS), Narudin (Pakar teori semiotika, penerjemah, dan kritikus sastra) dari Subang, Wijanarto (Pengamat Sastra Tegalan), dan Muarif Esage (Penulis buku dan Kritikus Sastra Tegalan) guru SMA Negeri I Slawi, Kabupaten Tegal.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar