Budayawan Tegal Memaknai Bakda Ketupat, Ini Ulasannya

  Sabtu, 30 Mei 2020   Dwi Ariadi
ilustrasi ketupat.(dok)

TEGAL TIMUR, AYOTEGAL.COM - Lebaran Ketupat atau familier disebut Bakda ketupat atau bada kupat sudah menjadi tradisi leluhur masyarakat Jawa yang sudah turun temurun. Budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik mengatakan, kali pertama bada ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga kepada masyarakat Jawa.

''Sunan Kalijaga membudayakan dua kali bakda, yaitu bakda Lebaran dan bakda Kupat yang dimulai seminggu sesudah Lebaran,''kata Atmo.

Disampaikan oleh Ketua Lesbumi Kota Tegal ini, dalam filosofi Jawa, ketupat memiliki makna khusus. Ketupat atau KUPAT merupakan kependekan dari ngaku lepat dan laku papat. ''Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Laku papat artinya empat tindakan,''katanya.

Menurut Atmo, untuk ngaku lepat merupakan, tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat (mengakui kesalahan) bagi orang Jawa. ''Sungkeman mengajarkan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan dan ampunan dari orang lain.''

Adapun laku papat meliputi, 1. Lebaran, berakhirnya puasa. 2. Luberan atau melimpah, ajakan untuk bersedekah untuk kaum miskin berupa zakat fitrah. 3. Leburan, dimaksudkan lebur atau habis dengan maksud melebur habis dosa dan kesalahan dengan saling memaafkan. 4. Laburan, dimaknai labur dengan kapur yang biasa digunakan untuk menjernihkan air atau pemutih dinding dengan kandungan maksud suci lahir dan batin. 

Selain itu, lanjut Atmo, ada filosofi dari kupat-lepet kenapa dibungkus dibungkus janur. ''Janur, diambil dari bahasa Arab "Ja'a nur" (telah datang cahaya ). Bentuk fisik kupat yang segi empat ibarat hati manusia,''katanya.

''Saat orang sudah mengakui kesalahannya maka hatinya seperti kupat yang dibelah, pasti isinya putih bersih, hati yang tanpa iri dan dengki. Kenapa? karena hatinya sudah dibungkus cahaya (ja'a nur).'' 

Adapun untuk Lepet = silep kang rapet. ''Mangga dipun silep ingkang rapet, mari kita kubur/tutup yang rapat.  ''Jadi setelah ngaku lepat, meminta maaf, menutup kesalahan yang sudah dimaafkan, jangan diulang lagi, agar persaudaraan semakin erat seperti lengketnya ketan dalam lepet,''tandasnya.

Menurut Atmo, acara Lebaran dengan ketupat dan dengan bersalaman dan saling memohon maaf hanya ada di Indonesia. ''Tradisi itu dicipta dan tercipta di tanah Jawa, bukan tradisi Arab yg dibawa ke Indonesia,''ujarnya.

Apalagi, kata dia, kupat di Tegal sangat akrab ada 3 kupat, kupat bongkok, kupat randu gunting, kupat pesurungan/kupat blengong.

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar