Ekonomi di Eks-Karesidenan Pekalongan Kuartal III Membaik, Ini Penjelasan OJK Tegal

  Rabu, 30 September 2020   Lilisnawati
Kepala OJK Tegal, Ludy Arlianto.(Lilisnawati/Ayotegal)

TEGAL BARAT, AYOTEGAL.COM- Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tegal, Ludy Arlianto menyebut ekonomi di eks-Karesidenan Pekalongan pada kuartal III dalam kondisi stabil dan terjaga.

Menurutnya, jika dibanding pada kuartal II, kinerja ekonomi pada kuartal III mengarah pada tren membaik meskipun meningkatnya kasus positif Covid-19 harus tetap diwaspadai.

"Perekonomian global dan domestik secara perlahan mulai menunjukkan signal perbaikan. Di level domestik, pertumbuhan sektor riil sendiri cenderung meningkat walau berjalan secara perlahan," ungkap Ludy, Rabu (30/9/2020).

Hal itu, kata Ludy, dilihat dari data terakhir pertumbuhan YoY kredit BPR/S di eks Karesidenan Pekalongan tumbuh positif 3,40 persen.

"Melihat capaian ini dalam situasi pandemi yang masih membayangi perekonomian nasional, kita optimis kinerja ekonomi pada kuartal IV tahun 2020 akan semakin membaik," ucapnya.

Ia juga mengatakan, program realisasi restrukturisasi kredit atau pembiayaan juga berhasil menekan tingkat NPL yang terjaga sebesar 2,06 persen pada sektor perbankan di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

"Resktrukturisasi perbankan hingga kuartal III telah mencapai 87,41 persen atau sebesar Rp7 triliun yang diberikan kepada 146.000 debitur. Sedangkan dari sektor industri keuangan non bank, restrukturisasi kredit telah dilakukan pada 103.000 debitur dengan outstanding Rp924 miliar," jelasnya.

Ludy menjelaskan, OJK secara aktif melakukan pemantauan terhadap pengelolaan penempatan dana pemerintah kepada perbankan dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) baik yang disalurkan melalui HIMBARA maupun BPD, di mana dana PEN telah tersalurkan kepada 1.378 debitur senilai Rp303 miliar.

Selain itu, program subsidi bunga pemerintah juga telah tersalurkan hinggal level BPR/S di wilayah eks Karesidenan Pekalongan.

"Tujuh BPR telah penjadi penyalur subsidi bunga pemerintah kepada 2.125 debitur dengan outstanding Rp54,3 miliar. Jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan selesainya proses verifikasi data baik dari 24 BPR/S lainnya maupun Kementerian Keuangan," bebernya.

Ludy berharap, subsidi bunga tersebut diharapkan membantu debitur meningkatkan usahanya untuk bangkit sehingga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

Sementara untuk mengatasi pandemi Covid-19, baik dari aspek kesehatan dan ekonomi harus dilakukan bersama-sama antara pemerintah, stakeholder, pebisnis dan masyarakat untuk terus menerapkan protokol kesehatan.

"Fokus kebijakan pada masa ini adalah dengan meningkatkan efektifitas penanganan pandemi, penguatan sektor jasa keuangan dan meningkatkan demand melalui dukungan sektor riil. Untuk itu kita selalu melakukan sinergi dengan kebijakan pemerintah bersama dengan pengampu sektor jasa keuangan di wilayah eks Karesidenan Pekalongan," ujarnya. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar