Ini Kata Ahli Fisika Soal Kecelakaan Sriwijaya Air SJ 182

  Selasa, 12 Januari 2021   Fitria Rahmawati
Tim investigasi KNKT melakukan pemeriksaan bagian pesawat Sriwijaya Air SJ 182 di Dermaga JICT 2, Jakarta, Selasa (12/1/2021). KNKT menerima sejumlah komponen pesawat Sriwijaya Air SJ 182 yang jatuh di perairan Kepulauan Seribu. Komponen pesawat yang sudah bisa diidentifikasi mulai dari ekor pesawat, beberapa instrumen pesawat seperti GPWS dan radio altimeter, hingga peluncur darurat. (FOTO : Edwin Dwi Putranto/Republika)

JAKARTA, AYOTEGAL.COM - Analisa jatuhnya pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 diduga karena pilot menghindaricuaca buruk hingga menyebabkan kemiringan pesawat yang terlalu menukik. Itu dikemukakan Sekretaris Jenderal Dewan Ketahanan Nasional (sesjen Wantannas) periode 2003-2005 yang juga ahli fisika, Profesor Budi Santoso.

Dalam analisanya, Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ 182 kehilangan daya angkat usai menukik terlalu tajam.

"Biasanya kalau kemiringan kebablasan akan dikoreksi oleh sistem kontrol. Namun kalau ada turbulensi, sistem kendali tak berdaya mengkoreksi," ucap Budi kepada Republika - jaringan Ayotegal.com, Selasa (12/1/2021).

AYO BACA : Satu Korban Sriwijaya Air SJ 182 Teridentifikasi

Budi menyebut, pesawat Sriwijaya Air jatuh bebas, hingga menukik. Dia menduga, pilot mencoba menghindari cuaca buruk secara tiba-tiba dengan posisi pesawat terlalu miring. Kondisi itulah yang menyebabkan pesawat Boeing tersebut tidak memiliki daya angkat.

"Ketika pesawat jatuh bebas, tiba-tiba saja orang kehilangan kesadaran, apalagi menukik. Pesawat menghantam permukaan laut dengan kecepatan tinggi, dalam keadaan mesin hidup. Pasti tangki bahan bakar pecah dan ditelan api mesin jet, hingga meledak," kata Budi.

Karean itu, Budi memprediksi, pesawat bukan meledak ketika berada di udara. Karena kalau meledak di udara, sambung dia, sebarannya pecahan bodi pesawat luas. 
"Ini tersebar pula cuma di dalam air. Itu tanda ledakan menjadi berkeping, bahkan tubuh pun berkeping," ujar Budi yang mengaku banyak mengamati jatuhnya pesawat yang kehilangan daya angkat karena posisinya yang miring.

Pesawat Sriwijaya Air SJ 182 dinyatakan hilang di Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (9/1/2021) sore WIB.

AYO BACA : SAR Kumpulkan 74 Kantong Jenazah Korban Sriwijaya Air SJ 182

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar