Merasa Dicovidkan RS Dadi Keluarga, Warga Banyumas Menggugat

  Kamis, 21 Januari 2021   Fitria Rahmawati
ilustrasi penegakkan hukum/ shutterstock

BANYUMAS, AYOTEGAL.COM - Keluarga di Banyumas menggugat pihak Rumah Sakit Dadi Keluarga (RSDK) Purwokerto lantaran tak terima keluarganya dinyatakan positif Covid-19 saat meninggal, padahal masih berstatus Pasien dalam Pengawasan (PDP). Gugatan dilakukan Ayong (58), yang merasa dirugikan lantaran suaminya, mendiang Hanta Novianto (52) dimakamkan dengan protokol kesehatan.

Kasus tersebut sudah masuk dalam persidangan di Pengadilan Negeri Purwokerto. Perkara ditangani oleh Ketua Majelis Hakim, Vilia Sari beserta Hakim Anggota Rahma Sari Nilam Panggabean dan Arief Yudiarto. Sayang, sidang perdana mereka tak dihadiri Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) pada, Rabu (20/1/2021), di Pengadilan Negeri (PN) Purwokerto. Sidang akan dilanjutkan pada 10 Febriari 2021 mendatang.

"Hadir kembali pada persidangan tersebut hari Rabu tanggal 10 Februari 2021, sambil menunggu KARS dari Jakarta," kata Majelis Hakim, Vilia dalam persidangan di PN Purwokerto, Rabu (20/1/2021).

Kasus tersebut bermula saat pasien bernama Hanta Novianto (52) warga Kelurahan Teluk, Purwokerto Selatan meninggal dengan status Pasien Dalam Pengawasan (PDP) di RS Dadi Keluarga. Ayong yang menggunggat tak terima jika anggota keluarga dinyatakan covid padahal negatif. Pihak keluarga kemudian mengajukan gugatan kepada RS Dadi Keluarga melalui kuasa hukum Dwi Amilono, pada Bulan Desember lalu.

AYO BACA : Alhamdulillah, 6 ABK Tugboat Logindo Ditemukan Selamat di Pekalongan

"Suami masuk ke RSDK pada 26 April 2020 lalu. Terus meninggal pada 28 April dan dinyatakan positif Covid-19. Kami merasa dirugikan. Saat sakit, korban dibawa ke RS. Oleh pihak RS dinyatakan positif covid. Pemakaman pun dilakukan secara covid. Saya bahkan sempat dikucilkan," jelas Ayong.

Saat pertama masuk Ayong menyebut, suaminya mengidap penyakit paru-paru jadi waktu itu belum dicek melalui rapid.

Kuasa hukum Penggugat, Dwi Amilono menambahkan, kliennya menuntut ganti rugi materiil senilai Rp 335 juta dan Imateriil Rp 5 Miliar. Sehingga totalnya senilai Rp 5,335 Miliar.

"Gugatan yang dilayangkan yaitu tentang pasal KUH Perdata 1365 1367. Gugatan perdata dengan tuntutan Rp 5 miliar lebih," tuturnya.

AYO BACA : Naik Rp 9 Ribu, Emas Antam 21 Januari Rp 963 Ribu

Sementara itu, Direktur Utama RS Dadi Keluarga, dr Listya Tanjung mengatakan jika pasien dilakukan pemeriksaan medis secara menyeluruh dengan hasil kesimpulan pasien status PDP.

"Dengan kesimpulan status PDP gejala berat dan tindakan medis pemulasaran jenazah pasien PDP sesuai dengan Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (Covid-19)," terangnya.

Dengan status tersebut secara otomatis menurut dr Listya memegang patokan pada aturan yang diberlakukan pada saat itu.

"Dari kami sesuai dengan alur dan kebetulan disupport oleh Dinkes dan Pemkab Banyumas. Kami tidak mengabaikan penyakit yang lain," jelasnya.

dr Listya menjawab mengapa keluarga pasien lama mendapatkan surat keterangan negatif, menurutnya harus ada permintaan dari pihak keluarga. Pihaknya bahkan mengklaim telah mengumumkan kepada keluarga pasien pada Bulan Mei jika pasien yang bersangkutan negatif.

"Terkait dengan surat keterangan Di RS kami, memang harus ada permintaan dari keluarga. Kalau tidak kami tidak akan mengeluarkan surat keterangan itu," pungkasnya.

AYO BACA : Toyota Thailand Open: Adnan Maulana/Mychelle Dikalahkan Tim Bulutangkis Malaysia

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar