Jeritan Peternak Ayam di Banyumas, Tak Dibina Cara Olah Limbah, Dipalak Oknum, Sebagian Besar Kini Gulung Tikar!

  Rabu, 27 Januari 2021   Fitria Rahmawati
ilustrasi daging ayam/ Republika

BANYUMAS, AYOTEGAL.COM - Sudah jatuh, tertimpa tangga! Itulah gambaran ngenes yang kini dialami para peternak ayam di Kabupaten Banyumas. Pandemi covid-19 saja sudah merontokkan pondasi penjualan mereka, kini, kenaikan harga pakan ternah, ditambah oknum penegak hukum yang kurang waras kian menambah nestapa mereka.

Ketua Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar) Banyumas, Gembong Heru Nugroho mengungkapkan, ada oknum penegak hukum di Banyumas yang memalak peternak ayam hingga Rp 90 juta. Dalihnya, si peternak tak memiliki sistem pengelolaan limbah atau Unit Pengolah Limbah (UPL). Padahal, para peternak tersebut semeskinya dibina, lantaran sebagian besar masih buta hukum. Kini ulah oknum ditambah pandemi membuat 200 pelaku peternak ayam di banyumas gulung tikar dan hanya tersisa 10 pelaku saja!

Gembong mengatakan, itu terjadi kepada anaknya yang juga menekui ternak ayam. Anaknya terpaksa memberikan uang yang diminta oknum tersebut lantaran merasa terancam dan ditakut-takuti.

Gembong menceritakan anaknya sendiri memiliki peternakan ayam petelur di Desa Limpakuwus Kecamatan Sumbang. Dia mengaku, pada masa awal wabah Covid 19 terjadi, anaknya didatangi petugas yang menanyakan masalah keberadaan UPL. Anaknya kemudian menjawab, lokasi peternakan anaknya berjarak sekitar 1 km dari lokasi pemukiman penduduk terdekat, dan selama ini tidak ada masalah dengan lingkungan. Lebih dari itu, peternakan tersebut juga sudah berproduksi sejak tahun 2008.

AYO BACA : Pagi Ini, Jokowi Disuntik Vaksin Covid-19 Dosis Kedua

Namun oknum tersebut tetap menilai peternakannya melanggar hukum, karena tidak memiliki UPL. Gembong menilai persoalan tersebut hanya cenderung dicari-cari, karena oknum tersebut berjanji akan menghentikan penyelidikan bila anaknya bersedia membayar Rp 90 juta. 

"Ini yang saya sesalkan," katanya, Selasa (26/1/2021)

Gembong mengaku menuruti permintaan tersebut. Namun akhirnya, kasus UPL di peternakan anaknya berlanjut ke proses persidangan di Pengadilan Negeri Banyumas. ''Meski pun sejak Juli 2020 lalu, anak saya sudah mulai mengurus rencana pembuatan UPL,'' katanya.

Terkait hal ini, Gembong berharap agar para penegak hukum bisa bersikap adil. ''Mestinya, kalau memang para peternak belum membuat UPL, bisa dilakukan pembinaan dengan menggandeng dinas terkait. Bukan malah diproses hukum seperti ini,'' katanya.

AYO BACA : Raffi Ahmad Merasa Ngantuk Saat Divaksin Sinocac

Berguguran

Meski demikian, masih ada hal lain yang membuat Gmebong bersedih. Itu adalah banyak peternak yang kini harus gulung tikar lantaran dilanda pandemi yang tak berkesudahan. Dari 200 peternak yang masuk dalam datanya, kini hanya ada 10 saja yang bertahan. Mereka tak mampu membayar pakan ternak yang harganya kian hari kian melambung, namun harga daging ayam dan telur ayam tak pernah berpihak pada peternak.

"Baik peternak ayam pedaging dan petelur, hampir semuanya gulung tikar," jelasnya.

Menurutnya, harga telur ayam ras di tingkat peternak saat ini hanya dihargai sekitar Rp 15.000 per kg. Dengan kondisi harga pakan saat ini, harga telur mestinya sekitar Rp 19.000 per kg. ''Dengan harga Rp 19.000 per kg, kami baru bisa impas dengan biaya produksi. Tapi kalau di bawah harga itu, jelas peternak akan menanggung kerugian,'' katanya.

Demikian juga dengan ayam pedaging. Gembong menyebutkan, meski harga ayam pedaging saat ini tidak anjlok terlalu dalam dibanding telur ayam ras, namun peternak masih harus menanggung kerugian.

Menurutnya, harga jual telur dan ayam pedaging yang anjlok dan harga pakan ternak yang justru terus mengalami kenaikan, menjadi persoalan yang dihadapi peternak. Kondisi ini masih ditambah adanya wabah Covid 19, yang menyebabkan kondisi pasar semakin sepi sehingga menekan harga telur dan ayam pedaging.

Ia berharap, pemerintah hadir dengan memberikan bimbingan kepada peternak untuk menjalankan usahanya. Sehingga, pasokan kebutuhan daging ayam dan telur bisa mengambil produk lokal yang bisa membangkitkan perekonomian rakyat.

AYO BACA : Turun Rp 2.000, Harga Emas Antam 27 Januari 2021 Rp 956.000

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar