Melihat Bencana dari Perspektif Agama, Perlukah Ruwat dan Taubat Bersama?

  Selasa, 09 Maret 2021   Dwi Ariadi
Ki Sengkek Suharno.(dok.priibadi)

SLAWI, AYOTEGAL.COM -- Tepat di bulan maret ini setahun sudah Pandemi Covid 19 melanda Dunia tak terkecuali Indonesia. 

Hampir seluruh sendi kehidupan baik kesehatan, ekonomi, politik, sosial budaya dan kemasyarakatannya mengalami goncangan dahsyat serta kelumpuhan yang dampaknya sangat terasa dan sangat signifikan sehingga mengakibatkan resesi dan krisis secara bersamaan dihampir setiap negara yg ada dimuka bumi ini.

Belum selesai dengan penangananya datang lagi musibah berupa Efek La Nina yg mengakibatkan air laut pasang dan gelombang tinggi serta angin puting beliung menerjang sebagian wilayah Indonesia. 

Adapula bencana Musiman yg terjadi hampir setiap tahun seperti Banjir dan tanah longsor akibat hujan deras yang mengguyur yang bukan hanya akibat sistem drainase yg buruk tapi juga disebakan pengalihfungsian hutan secara masif dan terstruktur.

Hutan yang seharusnya menjadi resapan menjadi beralih fungsi menjadi lahan pertanian dan Lahan galian Tambang.

Gunung bukit dan sawah yang merupakan jalur hijau dijadikan vila dan tempat permukiman serta pabrik. Belum lagi sampah dan limbah yang menggunung menyumbat drainase dan saluran pembuangan yang menyebabkan sedimentasi dan pendangkalan di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

Siapa yang salah?. Alam tidak bersalah. Yang salah ada di manusianya. Bencana terjadi karena kondisi alam yang sudah tidak proporsional. 

Air mengalir lebih kencang dari gunung di saat hutan sudah tidak lagi ada pohon besar atau berubah menjadia pertanian. Jika melihat kesalahan terletak pada manusia, di mana peran pemerintah, para tokoh masyarakat dan tokoh agama.

Agama harus hadir untuk dapat menyadarkan perilaku manusia yang sudah tidak bersahabat lagi dengan alam. Antstipasi sangat diperlukan.

Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan perilaku manusia yang serakah inilah yang menjadi sumber utama bencana yang melanda. 

Keseimbangan alam yang seharusnya terjaga menjadi limbung dan goyah sehingga mengakibatkan rusaknya tata kosmos kehidupan di jagat raya yabg akhirnya memaksa alam ini menyeimbang diri dengan caranya sendiri.

Manusia sudah dibutakan dengan kehidupan dunia sehingga lupa dengan alam dan Penciptanya. Sementara yang mengaku beriman tertipu dengan keimananya sendiri sehingga mudah sekali menuduh dan menyalahkan orang lain. 

Para Pemangku kebijakan dan tokoh agama cenderung hanya gugur kewajiban sehingga hanya sibuk memberikan perintah dan tausiyah serta mauidzah khasanah tapi lupa memberikan cinta kasih dan uswatun khasanah.

Kegiatan Keagamaan hanya sebatas seremonial dan sebatas mimbar miskin dialog dan kajian sehingga penerjemahan dan pemahamanya hanya sebatas kulit dan tenggorokan. 

Akar tradisi dan budaya yang sudah turun temurun mulai ditinggalkan sehingga kearifan lokal yg menjadi media pondasi dan selaras dengan agama menjadi hilang dan terpinggirkan. Inikah yang disebut keimanan atau justru dekadensi spiritualitas ?

Sudah saatnya para tokoh agama dari segala keyakinan bersatu dan membuat sebuah gerakan bersama dalam menghadapi Bencana karena hakikatnya bumi itu rumah kita bersama. 

Tradisi dan budaya yang mempersatukan seluruh Agama harus dihidupkan kembali agar nilai dan filosofinya yang menjadi sumber kearifan lokal dapat menggugah kesadaran bersama pentingnya menjaga keseimbangan alam.

AYO BACA : Warga dan ASN Jateng Diimbau Tak Berwisata saat Libur Isra Miraj dan Nyepi

Bagong yakin bahwa di setiap agama dan kepercayaan pasti mengajarkan cinta kasih dan merawat serta menjaga alam raya sebagai wujud syukur kepada Tuhan.

Pemahaman dan kesadaran kolektif tentang Keseimbangan alam inilah yg menjadi manifestasi dari ajaran Hablun minalloh (hubungan manusia dengan Tuhan), Hablun minannas ( hubungan antar sesama manusia), dan Hablul alalalamin (hubungan manusia dengan alam sekitarnya).

Dalam Konsep ajaran Tri darma Budha Konghucu dan Tao terdapat Yin dan Yang serta Tradisi Ciswak atau Po Un sebagai Konsep Keseimbangan. 

Di Agama Hindu mengajarkan Upacara Adhi Terula selain juga Ajaran Tri hita Karana sebagai manifestasi hubungan manusia dan alam sekitar. 

Dalam Alkitab Yesus pun mengajarkan Cinta Kasih serta pertaubatan sbg sarana tolak bala pengusiran Jin dan Setan lewat Markus 5: 1-20. 

Dalam Islam, ada istighozah dan dzikir serta tahlil sebagai sarana meminta Ampun dan memohon keselamatan dunia akhirat.

Ruwat dalam konsep merawat juga pernah dilakukan Malaikat Jibril Kepada Nabi Muhammad dengan cara membuka dada dan mengambil hati Baginda Nabi kemudian membersihkannya dengan air zam-zam ketika Sang Baginda Nabi berumur 4 tahun (HR. Ibnu Ahmad). 

Bagong teringat ketika Semar menjadi dalang dan melakukan ruwatan sebagai sarana mengusir pagebluk dan balak yg disebabkan Bathara kala dalam lakon Murwakala.

Alangkah indah dan menyejukkan jika seluruh tokoh agama dan pemangku kebijakan berbaur dengan masyarakatnya dalam sebuah Tradisi dan Budaya Ruwat Bumi. 

Hilangkan segala perbedaan, bersatu dan bergandengan tangan menghadirkan dan menggemakan doa doa tolak bala dan mohon ampun kepada Sang Pencipta secara bersama menurut agama dan kepercayaanya masing-masing, namun dalam bingkai Kebersamaan dan persatuan.

Jadikan Ruwat Bumi sebagai sarana merawat dan menjaga tradisi serta bersyukur atas limpahan dan rizki yang diberikan Tuhan kepada manusia di atas bumi sekaligus momen pertobatan massal karena kita sebagai manusia apapun Suku Agama Ras dan kepercayaanya telah lalai dan lupa dalam menjaga keseimbangan alam yang menyebabkan bencana bertubi datang melanda umat manusia.

Jangan jadikan suasana pandemi ini sebagai alasan untuk tetap berdiam diri dan tidak mau berbuat apa-apa. Sebab ruwat bumi ini bisa dilakukan secara sederhana dan Prokes ketat. 

Selain itu juga merupakan bentuk ikhtiar dan upaya bersama secara batin dan budaya dalam menangkal dan mengusir bala atau blai berupa virus korona serta memohon Kepada Sang Pencipta agar terhindar dari segala marabahaya dan bencana yang telah sedang dan akan terjadi di masa mendatang.

Dalam susana batin yang penuh kegelisahan Bagong bergegas pulang naik motor bututnya menyusuri jalan yang mulai lengang. Di sepanjang jalan Bagong nggrentes dalam hati sehingga tak terasa matanya mulai basah.

Untung saja hujan mengguyur sehingga menyamarkan gurat kesedihan dan kegelisahan dalam wajahnya.
\n                       
\nSebelum terlelap, Bagong teringat sebuah doa warisan Mbah Kyai Syatori Blendung yang diajarkan kepada Kyai Mas'ud Baedowi Sidadap :

Allohumma Sidanongklang Sidanongkling
\nSumingah suminggih Sumingkar Sumingkir
\nAyam Tulak ayam tukung Tinulak Sekabejaning Blai Mrekungkung Sekabehaning Pancabaya
\nBengang benging bengang bengeng Bang bang kumimbang Paribasane Kembang


\nKi Sengkek Suharno, Dalang Wayang Kebangsaan
\nWakil Ketua PC GP Ansor Kabupaten Tegal
\n-Pojok Nyong Kopi 4 Maret 202

AYO BACA : Bedah Buku Biografi Ki Enthus Susmono, Umi Azizah Terkenang Gaya Pemimpin yang Blak-blakan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar