Kepala DLH Tepis Kabupaten Tegal Darurat Sampah, Begini Penjelasannya

  Sabtu, 20 Maret 2021   Dwi Ariadi
Diskusi Ngopi Kemisan edisi Dolan di Kedai Kopi Pejalan, Jl Raya Harjosari, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Kamis (18/3/2021)(dok)

SLAWI, AYOTEGAL.COM - Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Tegal, Muchtar Mawardi menepis kabar yang belakangan ini merebak bahwa Kabupaten Tegal berstatus darurat sampah. 

''Ini perlu saya luruskan. Kabupaten Tegal tidak darurat sampah. Memang ada persoalan dalam penanganan sampah di hilir, yakni Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) di Penujah yang sudah melebihi ambang batas,''jelas Muchtar dalam Diskusi Ngopi Kemisan edisi Dolan di Kedai Kopi Pejalan, Jl Raya Harjosari, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Kamis (18/3/2021).  

Menurut Muchtar, darurat sampah terjadi sekitar tahun 2018-2019 lalu. ''Namun sejak tahun 2020 sudah ada perjalanan pengolahan sampah mulai hulu sampai hilir. Seperti saat ini di Kota Slawi sudah beres,''katanya.

Muchtar menegaskan, status darurat sampah memiliki kriteria di mana dalam pengelolaan sampah baik mulai hulu sampai hilir tidak berjalan sama sekali. 

''Apalagi sekarang sedang berjuang dalam program Merdeka Sampah. Jadi tidak benar kalau Kabupaten Tegal berstatus darurat sampah,''tegasnya. 
 
Dalam acara yang dipandu oleh Syamsul Falah, dosen IBN Tegal ini hadir pembicara Wakil Ketua Komisi III DPRD, M. Khuzaeni yang akrab dipanggil Jeni Bae, Ketua Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa (Papdesi) Mulyanto dan Ketua Asosiasi Bank Sampah (Asobsi), Budi Hermanto. 
 
Peran Desa 

Menanggapi soal penanganan sampah, M Khuzaeni mengatakan, pihaknya mengapresiasi peran desa dalam giat penanganan sampah dengan adanya TPS. 

'' Antara desa yang MoU dengan DLH yakni pengangkutan sampah dari TPS ke TPA,''katanya.  

Namun, lanjut dia, karena armada pengangkutan kurang maka tak sedikit sampah menumpuk di desa. ''Persoalannya tinggal perluasan TPA dan armada diperbanyak, saya kira sampah tertangani,''ujarnya.  

Sementara itu, Mulyanto mengharapkan dalam program Merdeka Sampah ada prioritas dimulai dari mana. ''Perlu ada keragaman karena potensi sampah di tiap desa berbeda, tidak bisa diseragamkan seperti apa mau dibuat magot atau pupuk kompos.''

Adapun Budi Hermanto mengharapkan, pihak Asobsi yang merupakan partner dalam pengelolaan sampah di bagian hulu perlu manajemen yang baik. 

''Ke depan, bagaimana mendorong kepada masyarakat dari hulu sampah menjadi bahan baku di masa pandemi, UMKM pengelolaan sampah memiliki nilai ekonomi,''tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar