Kisah Iwan, Jalan Terjal Membina dan Melawan Stigma Napi Teroris di Bandung

  Rabu, 21 April 2021   Budi Cahyono
Pendiri Yayasan Batas Cakrawala Iwan Setiawan (50) menunjukkan lampion yang dibuat mantan napi teroris dari limbah paralon. (Ayobandung.com/Restu Nugraha)

BANDUNG, AYOTEGAL.COMĀ -- Penjara merupakan tempat hukuman seseorang terbukti melakukan tindak kriminal atau pelanggaran hukum.

Ada banyak kasus dapat membuat seseorang masuk jeruji besi. Salah satunya narapidana terorisme.

Meski begitu, mendekam di hotel prodeo tak membuat narapidana (napi) taubat. Ada banyak kejadian napi setalah keluar penjara justru kembali terjerat kasus pidana serupa.

Berangkat dari kekhawatiran tersebut, Iwan Setiawan (50) membuat sebuah Lembaga Kesejahteraan Sosial (LKS) bernama Yayasan Batas Cakrawala di KomplekS Pesona Fajar Asri Desa Tanimulya, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Melalui yayasan ini, Iwan gencar merangkul mantan napi terorisme, memberi edukasi, dan aneka pelatihan kemandirian ekonomi. Sejak didirikan tahun 2016, tercatat sebanyak 37 mantan napi teroris telah dibina.

"Banyak napi setelah dihukum penjara dikembalikan ke masyarakat berbuat pidana lagi. Oleh karena itu, saya rasa perlu ada lembaga berbasis masyarakat untuk merangkul mereka supaya tak mengulangi," papar Iwan saat ditemui, Rabu 21 April 2021.

Agar napi tidak kembali ke jalan dahulu, Iwan berjuang menghapus stigma negatif mantan terorisme dengan cara memberi pelatihan skill usaha sebagai bekal diterima masyarakat dan keluarga.

Para napi diajari cara bertani, berternak, serta membuat barang bernilai ekonomi dari limbah.

"Melawan stigma negatif dari masyarakat adalah dengan cara memberi napi skill atau keahlian khusus agar mereka bisa dianggap," tuturnya.

Menurut Iman, mantan napi teroris punya pendirian dan sikap yang kuat. Untuk merangkul mereka ia melakukan pendekatan keluarga sehingga bisa memotivasi untuk berbaur dengan masyarakat luas.

Setelah mau bersosialisasi, mantan napi terorisme baru akan diberikan pelatihan kemandirian ekonomi sesuai minat mereka. Kini para napi telah memiliki sejumlah usaha mulai dari berdagang baju muslim, peci, kitab, hingga membuka praktik bekam.

Namun, melawan stigma negatif mantan napi terorisme tak semulus dibayangkan. Iwan menyebut saat ini sejumlah napi mengalami kesulitan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Banyak di antara napi mengalami masalah pada sisi pemasaran terhadap produk yang dibuat.

"Saat ini para napi terkendala pemasaran. Pemerintah mohon bantu, karena saat ini pemasaran mereka hancur," pungkasnya. (Restu Nugraha)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar