Ingin Anaknya di Pesantren, Seorang Difabel di Kota Tegal Jual Gas Keliling dan Mengajar

  Senin, 03 Mei 2021   Lilisnawati
Achmad Arif Budiono saat akan mengantarkan gas kepada para pelanggan, Senin 3 Mei 2021.(Lilisnawati/Ayotegal)

TEGAL TIMUR, AYOTEGAL.COM- Di tengah keterbatasan fisik, tampaknya tak menghalangi semangat Achmad Arif Budiono (49) untuk terus berjuang menjadi seorang tulang punggung keluarga.

Bagaimana tidak, ia rela menjadi tukang gas keliling tiap harinya.

Bukan hanya itu, ia juga mengajar sebagai guru T4 (Tahsin, Tahfidz, Tadarus dan Tilawah) di SMP Ihsaniyah, Kota Tegal.

Setelah itu, disambung lagi dengan aktivitasnya sebagai guru ngaji di Madrasah Al Bayan, Kota Tegal.

Di balik itu semua, ternyata ada motivasi yang terus ia genggam. Pasalnya, ia ingin memondokkan anak-anaknya ke pesantren.

"Dari dulu memang saya pekerja keras, bahkan pantang menyerah saat masih sehat. Dulu motivasi saya ada ibu yang harus diobati karena struk, sekarang ada istri dan anak-anak," katanya saat ditemui di rumahnya di Jalan Waringin, Kelurahan Mintaragen, Kota Tegal, Senin 3 Mei 2021.

Terlebih, kata Arif, ia mempunyai cita-cita memondokkan anak-anaknya ke pesantren.

"Bagaimana pun saya adalah seorang kepala keluarga dan seorang bapak yang punya tanggung jawab untuk menafkahi dan memberikan pendidikan yang cukup untuk anak-anak," tuturnya.

Arif juga menceritakan awal mula kehilangan separuh kakinya. Hal itu bermula dari kecelakaan yang dialaminya pada tahun 1997.

"Waktu itu saya mau pulang ke Tegal, mau ngasihkan gaji dan bonus kerja sama orangtua. Eh baru sampai Comal saya kecelakaan," bebernya.

Menurutnya, kedua kakinya waktu itu masih utuh, namun karena telatnya penanganan membuat kondisi kaki kanannya semakin parah.

"Waktu itu saya menolak diamputasi. Selama tiga tahun saya hanya di tempat tidur, pita suara sudah hilang, badan kaku. Baru kemudian saya punya semangat lagi dan akhirnya mau diamputasi," ucapnya.

Semangat pantang menyerahkan pun kembali menggebu. Di tahun 2002, ia mendapat tawaran pekerjaan sebagai penjaga toko grosir makanan ringan di Pasar Karangdawa milik saudaranya.

Lima tahun kemudian, tepatnya di tahun 2007, ia mencari pekerjaan tambahan dengan berjualan gas keliling.

Baru kemudian di tahun 2012, ia mendapat tawaran sebagai guru T4 di SMP Ihsaniyah dan tak lama kemudian ada tawaran lagi sebagai guru ngaji di Madrasah Al Bayan, Kota Tegal.

"Pagi ngajar T4, pulang ngajar saya antar gas ke pelanggan, siang pukul 14.00 sampai 16.00 WIB saya ngajar ngaji di Madrasah Al Bayan, kemudian lanjut kirim gas lagi," ungkapnya.

Menurutnya, selain untuk keluarga, semangat pantang menyerahnya itu juga sekaligus ingin membuktikan bahwa di tengah keterbatasan fisik ternyata masih bisa berguna untuk orang lain.

"Walaupun fisik kita kurang, kita bisa asal ada kemauan. Tetap semangat untuk teman-teman difabel di luar sana. Kita juga bisa bermanfaat untuk orang lain," tuturnya. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar