Nama Enthus, Hasil Wisik dari Sumur Kidang Banten

  Senin, 10 Mei 2021   Dwi Ariadi
Atmo Tan Sidik.(dok)

AYOTEGAL.COM -- Dalam sebuah perbincangan di malam hening di Pondok Pesantren (Ponpes) Nadwatul Ummah asuhan Rois Suriah PBNU K.H. Fuad Hasyim, Ki Enthus Susmono pernah ditanya sang kyai tentang aslinya berasal dari mana, Tegal atau Brebes?

Di malam Selasa Pon, malam Rabu Wage, 26 Februari 2002, Ki Enthus Susmono secara terbuka menjelaskan dirinya lahir dari hasil perkawinan ayah asal Kabupaten Tegal, dan ibunya dari Kabupaten Brebes. 

Nama Enthus diperoleh dari laku spiritual ayahnya, seorang dalang kondang di kawasan pantai utara (Pantura), Sumaryo Dihardjo, ketika tirakat di daerah Sumur Kidang Banten. Setelah menempuh berbagai tahapan yang disarankan para kamituwa, Mbah Maryo (sapaan akrab Sumaryo Dihardjo) mendapat bisikan gaib. “Mengko mbokan anakke lair metune lanang, aran ngarepe supaya diarani Enthus. Moga-moga dadi dalang kondang sing nggulung jagad...”

Mendengar penuturan Ki Enthus, K.H. Fuad Hasyim terdiam, sembari menanggapi keluhan sang dalang dalam menghadapi persaingan antardalang di Jawa Timur. Kemudian, K.H. Fuad Hasyim mengijazahkan doa ilmu sirep yang berasal dari Wali Kriyan yang berbunyi: 

"Bismillahirrahmanirrahim. Allahumma kendi wiring katumpang amider-mider anggulati endase. Endase lagi sun godog ana ing dangdang jadi, sun kayoni kendal serut, lah ayulah atine wong sing andeleng, rep sirep atine wong sajagat kabeh. Kucila mingmang, mang ming mang bingung...” K.H. Fuad Hasyim berpesan doa tersebut agar dibaca tiga kali.

Pembicaraan berlanjut ke tema lain, yakni sekitar Alquran ditinjau dari mukjizat sastranya. Ki Enthus pun mencatat berbagai pemikiran K.H. Fuad Hasyim yang juga Rois Suriah PBNU sampai pagi. 

Saya memang menyaksikan etos kerja yang tinggi dan daya kejar dari sosok Ki Enthus dalam memburu ilmu kepada para sesepuh, tokoh ulama, serta siapapun yang memiliki kelebihan ilmu. Mereka semua selalu ia datangi untuk dijadikan guru. 

Di Pantura, sejak 1996, Ki Enthus sering mengajak bersilaturahim ke K.H. Subhan Makmun, pengasuh Ponpes As-Salafiyah Desa Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, juga ke K.H. Muhammad Miftah Anwar pengasuh Ponpes Al-Anwar Desa Pakijangan, Bulakamba, Brebes, bersama seniornya, Eko Tunas, cerpenis dan penyair kelahiran Tegal yang saat ini tinggal di Semarang. 

Barangkali penting untuk ditiru semangatnya oleh generasi muda, yakni Ki Enthus memiliki hobi mencatat ucapan-ucapan unggulan yang bisa mengundang kekaguman saat pentas. 

Tidak jarang sebelum pentas Ki Enthus mengambil data monografi dinamis desa, cerita rakyat setempat; isu-isu aktual tentang problem masyarakat, sehingga penonton selalu berdecak kagum setiap kali menyaksikan  pagelaran wayang goleknya.

Penulis pernah pada 2002 menjelang pentas “Nyambung Tali Paseduluran” dengan lakon "Sumilak Pedut Pringgondani" di Lesehan Roti Bakar Dian Gendut di selatan Masjid Agung Kota Tegal menyarankan agar dibuat wayang ‘Inul Ngebor’ yang langsung disahut: “Apik, sung!” Seketika itu juga Ki Enthus mengajak pulang sebentar menuju sanggarnya di Desa Bengle membangunkan tukang rancang golek. 

“Tulung garapan lain berhenti dulu, kamu buat saja wayang golek ‘Inul’. Jika bisa jadi sesudah waktu salat Ashar, maka akan diberi bonus tiga ratus lima puluh ribu." 

Dan betul, golek dimaksud bisa jadi tepat waktu. Maka pagelaran di Alun-alun Kabupaten Brebes saat itu menjadi viral dan mendapat liputan cukup luas dari media cetak maupun elektronik karena Ki Enthus sukses mementaskan wayang golek Inul yang fenomenal.

Dari kecerdasan semacam itulah, Ki Enthus mendapat julukan "Dalang Edan dari Pantura". Bahkan, rekan-rekan seniman menyebut Ki Enthus saat menjadi Bupati Tegal sebagai “Dalang Sing Nyambi Dadi Bupati”.

Ada kenangan khusus sebelum Ki Enthus meninggal dunia. Ia menghadiahkan keris miliknya yang dititipkan lewat Dian Gendut. Juga sepulang penulis melaksanakan ibadah haji pada 2015, Ki Enthus lebih memilih diberi oleh-oleh "nyeleneh" berupa kain ihram bekas. 

Dengan Ki Enthus Susmono, saya dikenalkan sejak 1986 oleh kedua kakaknya, Ki Dalang Sudirman dan Mas Yayitno Dihardjo. Saat itu dijelaskan, penulis dan Ki Enthus masih jalur nasab karena Mbah Tabid, kakeknya Ki Enthus dengan Mbah Daim Perlote (Lurah Pakijangan) adalah kakak beradik sepupu. Karena itu, diharapkan untuk tetap nyambung silaturahim, dengan maksud agar saling melengkapi dan dapat memberi kemaslahatan umat. 

Maka saat penulis menjabat Kepala Desa Pakijangan, Bulakamba, Brebes (1989-1997), setiap tahun dalam acara sedekah bumi (tasyakuran desa), Ki Enthus selalu tampil membawa lakon "Santri Kamil".

Sekadar kesaksian, figur Ki Enthus memiliki kemampuan menghumorkan suasana, kuat melek dalam membahas masalah-masalah sosial, dan selalu mencetuskan ide-ide baru. Karena itu, tidak jarang penulis sering ketiban "sampur" untuk mencari ide-ide yang relevan sebelum pentas di bidang pemerintahan, sosial politik dan budaya. 

Tidak jarang jam 3 pagi ia mengontak saya minta dicarikan ayat terkait kebatilan pasti hancur. Bahwa pendekatan yang bagus adalah dengan hikmah, kemudian umat harus memiliki kewaspadaan tingkat tinggi kepada orang munafik terkait larangan salat di Masjid Dhiror, juga tentang keberadaan ayat yang mengaitkan Alquran sebagai obat penyembuh.

Demikian silaturahmi saya dengan Ki Enthus Susmono yang terjaga dengan baik sejak dari jalur buyut, mbah, anak, juga Mas Haryo Enthus Susmono yang meniru jejak sang ayah.

Dari kedekatan dan suasana saling menghargai profesi, Alhamdulillah penulis banyak mengetahui info "jeroan" tentang filosofi hidup dari jagad pewayangan yang ditandai menjelang beliau meninggal dunia. Ki Enthus telah menghadiahkan kepada saya peci Gus Dur; Alquran Al Ibris terjemahan bahasa Rembang karya Mbah Bisri Mustofa yang dipengantari Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri), juga Tafsir Al Misbah karya Prof. Dr. Quraish Shihab 14 jilid.

Demikian pula ketika penulis mengantarkan titipan Alquran terjemahan Basa Banyumasan dari Novelis "Ronggeng Dukuh Paruk", Kang Ahmad Tohari, penulis diajak makan dengan lauk wader goreng Waduk Cacaban, lengguk, tahu dan tempe. Penulis sempat melontarkan pertanyaan: “Ganing mangane kayong setithik, Ki?” Hal itu lalu dijawab spontan: “Wis umur semene mangan aja kakehan, endah mengko sing nggotong ora kaboten...” 

Ternyata pembicaraan itu tak lama menemukan bukti, bahwa pada hari Senin Wage, malam Selasa Kliwon, dalang kondang itu telah menjalankan "Sangkan Paraning Dumadi" untuk menghadap Dzat Yang Maha Dalang, Allah Subhanahu Wa ta’ala, di saat penulis sedang berada di kamar pribadi kediaman Habib Luthfi bin Yahya. Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun... 

Lepas dari segala kekurangan yang ada, dalam kapasitasnya sebagai manusia biasa, Ki Enthus adalah orang baik, yang tidak tega ketika ada warga menghampiri setelah turun dari pentas mengatakan: “Dalange, aku durung duwe beras nggo ngliwet..." Maka segera ia merogoh uang sodaqohnya. 

Demikian pula saat pentas kemudian ada warga kurang mampu yang melahirkan dan informasi itu sampai kepadanya, maka Ki Enthus menitipkan sejumlah uang untuk membantu. Dalam keyakinan Ki Enthus, anak yang lahir di saat pentas berlangsung dinamakan "Putra Panggung".

Semoga kesaksian kebaikan ini mengukuhkan bahwa almarhum adalah orang yang husnul ibadah, husnul muamalah, dan husnul khotimah. Al Fatihah. (*)   

Atmo Tan Sidik, Budayawan 
-Ketua Lesbumi Kota Tegal 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar