Semburan Lumpur Muncul di Cirebon, Baunya Menyengat

  Selasa, 01 Juni 2021   Dwi Ariadi
Tim BPBD Kabupaten Cirebon menunjukkan semburan lumpur yang menguarkan bau khas belerang di Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon. (Ayocirebon.com/Erika Lia)

CIREBON, AYOTEGAL.COM -- Warga Desa Cipanas, Kecamatan Dukupuntang, Kabupaten Cirebon, mengeluhkan bau menyengat yang diindikasi belerang dari titik semburan lumpur di salah satu kawasan.   

Staf Pemerintah Desa Cipanas, Yayan Ahmad Sidiq mengungkapkan, bau menyengat khas belerang menghinggapi hidung warga sejak sekitar 4 bulan terakhir.   "Terutama saat pagi," ujarnya, Selasa, 1 Juni 2021.   

Selain bau, sejauh ini belum ada keluhan lain yang mengganggu warga. Namun, sebagian warga melaporkan tak sedikit burung yang jatuh dan mati saat terbang melintas sekitar area semburan.   
"Kesaksian masyarakat, memang banyak burung yang jatuh dan mati," bebernya.   Karena itu, pemerintah desa telah mengingatkan warga untuk tak mendekati semburan, bahkan bermain api di sekitar lokasi.   Terlebih, sampai saat ini belum ada penelitian terkait semburan lumpur tersebut.   

Semburan lumpur yang tampak saat ini merupakan kali ke-3 sejak kemunculannya pertama sekitar 2014.   "Warga sempat menutup di titik semburan pertama, tapi kemudian kembali muncul titik semburan ke-2," ungkapnya.   T

itik semburan ke-2 pun kembali ditutup. Belakangan, justru muncul titik semburan ke-3 hingga meresahkan lagi masyarakat sekitar.   

Menurut Yayan, lebar lubang semburan sejak pertama nyaris sama. Lumpur di dalam lubang pun bergolak tiada henti, layaknya air mendidih.   Saat hujan turun, sebagian lumpur meluber ke sekitar. 

Menurutnya, dulu area tersebut pernah dimanfaatkan pabrik kapur yang tak lagi beroperasi kini.   "Kami harap sih ada yang meneliti ini semburan ini, apakah ada gasnya atau tidak, berbahaya tidak, dan diatasi sehingga masyarakat tenang," harapnya.   

Kepala BPBD Kabupaten Cirebon, Alex Suheriyawan menyebut, hasil observasi fisik di lapangan sejauh ini semburan di lokasi terkini lebih besar dari titik semburan awal.   

"Awalnya semburan kecil, kemudian berpindah tempat, tapi sekarang membesar," tuturnya.   

Dia pun meyakinkan, dampak semburan baru sebatas bau menyengat yang mengganggu warga.   Namun begitu, pihaknya menyeriusi laporan warga terkait burung yang mati saat terbang melintas di sekitar semburan.   

Jarak terdekat semburan dengan pemukiman warga sendiri sekitar 400 m. Ada pula areal pertanian berjarak sekitar hanya 10 m.   
Dia mengakui, meski telah lama muncul, semburan tersebut sampai kini belum ditangani intensif.   Upaya pencegahan di tingkat desa dan kecamatan sejauh ini dipastikannya telah dilakukan.    
"Kami pun membuat zona aman dan sudah berkoordinasi dengan instansi terkait tingkat kabupaten," tambahnya.   Pihaknya juga berencana berkoordinasi kejadian itu kepada pihak terkait lain, seperti BMKG, ESDM Provinsi Jawa Barat, BPBD Jabar, dan lainnya.   

"Kami belum tahu semburan ini beracun atau tidak. Kami harap setelah melaporkan kepada pihak terkait ada kajian mendalam," pungkas Alex.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar