Memprihatinkan, Anak-anak di Kota Tegal Jadi Korban Kekerasan Seksual Setiap Tahun

  Kamis, 10 Juni 2021   Lilisnawati
Kepala DPPKBP2PA Kota Tegal, M Afin bersama Kapolres Tegal Kota AKBP Rita W dan Ketua Umum LPAI, Seto Mulyadi saat melakukan assesment kasus kekerasan seksual, Rabu 9 Juni 2021.(Lilisnawati/Ayotegal)

TEGAL BARAT, AYOTEGAL.COM- Kasus pencabulan yang melibatkan anak di bawah umur di Kota Tegal baru-baru ini menjadi perhatian banyak pihak.

Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP2PA) Kota Tegal mencatat, ada 17 kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi pada tahun 2019 hingga Juni 2021.

Kepala DPPKBP2PA, Moh Afin mengatakan, kasus kekerasan seksual pada anak di Kota Tegal terjadi tiap tahunnya.

Ia merinci, di tahun 2019 tercatat ada 7 kasus, kemudian di tahun 2020 naik yakni 8 kasus dan di tahun 2021 sampai dengan Juni terdapat 2 kasus kekerasan seksual pada anak.

"Kasus di tahun 2021 ini satu di antaranya kasus anak-anak yang jadi korban pencabulan teman sejenisnya," ungkapnya, Kamis 10 Juni 2021.

Menurutnya, pihaknya sudah membentuk lembaga pengaduan untuk menekan angka kekerasan pada perempuan dan anak di Kota Tegal.

"Untuk pengaduan kekerasan perempuan dan anak, kami punya Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) Puspa. Di tingkat kecamatan ada PPA dan kelurahan juga ada satgas Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM)," katanya.

Bukan hanya itu, dalam waktu dekat, pihaknya juga akan mengembangkan pelayanan tersebut sanpai ke tingkat RT.

"Jadi ada pemantaun anak-anak sampai ke tingkat RT. Ini juga sesuai dengan yang disarankan dari LPAI," ucapnya.

Sementara Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) mencatat, angka kekerasan seksual terhadap anak di masa pandemi Covid-19 meningkat 50% hingga 60%.

Hal itu sesuai dengan apa yang disampaikan Ketua Umum LPAI, Seto Mulyadi ketika melakukan kunjungan di Mapolres Tegal Kota, Rabu 9 Juni 2021.

"Catatan kami, kasusnya meningkat bisa sampai 50% hingga 60% bahkan kemungkinan bisa terus meningkat," ujarnya.

Menurutnya, dari jumlah tersebut, mayoritas pelaku kekerasan pada anak yakni orang-orang terdekat.

"Mereka menjadi pelampiasan hormon seksual yang tidak tersalurkan, atau mungkin pelakunya melihat peluang. Faktor pemicunya sendiri dari penyalahgunaan gadget dan stres," bebernya.

Untuk itu, yang terpenting saat ini yakni menyadarkan masyarakat betapa pentingnya perlindungan anak. Upaya itu perlu dilakukan untuk mewujudkan Indonesia Emas pada 2045.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar